sebentar lagi tanggal 20 berakhir... tanggal yang memiliki kenangan. tapi entahlah masih berarti atau tidak sampai sekarang? kurasa...mungkin lebih baik seperti ini, kamu dengan jalanmu dan saya dengan jalan saya..... masing2 menyibukkan diri, berusaha melupakan yang telah terjadi, walau kadang dikala sepi yang lalu-lalu itu selalu terlintas...
terasa ada tapi tiada, walaupun sebenarnya ada... bagaimana dengan rasamu? masih adakah? atau sudah hilang tak berbekas? rasaku sudah mencapai batasnya..maaf saya kalah dengan semua perbedaan prinsip kita. lelah rasanya untuk terus berusaha menjalaninya...
yah kamu benar.. apa yang kamu katakan tentang sulitnya kita bersatu itu memang benar adanya.... maaf jika saya menyerah laksana pengecut seperti ini. saya akan mencari bahagia saya sendiri... maaf.. jangan paksa saya untuk menjelaskannya kenapa, kita... sudah terlalu banyak bicara.
jadi wiken ini saya banyak menunaikan janji saya sama teman2 saya, janji masakin puding buat Tikapinkhana, si ngaku-ngaku cicit yang riwil, ngasih sajen buat supir Lukmandisini, dan pesanan resep Garang Asem untuk nenek Merahitam.
Saya mau berbagi resep Garang Asem ibu saya, ternyata makanan seenak dan semenggigit itu bumbunya sangat mudah dan masaknya pun sangat mudah.
Garang Asem
Bahan:
1 ekor ayam (potong kecil-kecil)
Bumbu:
3 siung besar Bawang merah
2 siung Bawang Putih
2 buah Cabe kriting merah
2 buah Cabe hijau
10 buah Cabe rawit utuh
5 buah Belimbing wuluh
3 lembar Daun Salam
2 iris Laos
Garam dan gula secukupnya
Santan encer/setengah encer: dari 1/4 butir kelapa, atau dari santan kemasan Kara yang segitiga dicampur dengan segelas air.
Pembungkus: Daun pisang yang panjang dan lebar.
Cara membuat:
Ayam di cuci bersih, lumuri ayam dengan jeruk nipis dan garam. Diamkan sebentar selama 15 menit, lalu cuci bersih.
Bw merah+bw putih+cabe (kecuali rawit)+belimbing wuluh+laos semua bahan di potong2.
Campur ayam dan bumbu (yg dipotong maupun enggak) +santan. lalu bungkus dengan daun pisang. setiap bungkus diisi 1 atau 2 potong ayam.
Kukus di dalam dandang selama setengah jam.
Sajikan selagi hangat.
oh iya berhubung nyari daun pisang panjang di jakarta agak susah *kecuali kalo mau niat beli banyak di pasar tradisional* jadi biasanya ibu saya mengakali dengan mengukus bahan2 garang asem dengan mangkok anti panas, atau rantang. nah bahan2 itu dimasukkan dalam mangkuk tadi di aduk dan tutup dengan selembar daun pisang. setelah itu kukuslah dalam dandang selama setengah jam, jadi dehh... Jadi lebih irit bakai daun pisang kan? tapi mungkin aroma yang dihasilkan daun pisang jadi tidak semenggigit kalau di bungkus daun pisang.
Sholikin dengan piagam kemenangannya, ih ini Renzzy ok ikut2 mejeng sih?
Akhirnya menang lagi! hahaha itu komentar saya tentang kemenangan Sholikin/Si Ikin/Studio Gathotkaca dengan 'Grammar'nya di Hellofest 6 tahun 2009 ini. Kenapa saya bilang menang lagi? saya ndak heran dengan kemenangannya. Ceritanya tentang grammar suroboyo dan ditambahi cerita tentang Lontong Balap, salah satu makanan khas Surabaya *yang juga kesukaan saya* dikemas dalam animasi 2d yang ala kadarnya karena gambarnya jauh dari bagus sukses bikin ngakak2 1 studio pemutaran Hellofest 6 di Balai Kartini Gatot Subroto.
Lembar vote Hellofest 6
Numpang mejeng yaa...
Memang bukan pemenang favorit 1, cuma dapat favorit ke 2 tapi itu sudah membanggakan buat saya teman masa kuliahnya dan bikin si ikin senang banget karena dapet hadiah study tour ke Singapura! Cah ndeso asal Bojonegoro, yang kuliah desain di ITS Suroboyo, bolak-balik ke jakarta menghadiri festival film lantaran filmnya bolak-balik sering diputar dan diapresiasi, ehh sekarang dapat kesempatan untuk ke luar negeri, ke Singapura! Waw!!! hebat kamu Kin!!! Itu semua berkat film Grammar vol. 3 yang diikutsertakannya ke Hellofest 6.
Sholikin memang paling suka banget bikin animasi 2d dengan flash, pertama kali bakat menonjolnya saat dia bikin animasi sederhana macam Xiao-xiao (animasi dengan karakter manusia lidi) di kelas animasinya saat kuliah dulu. Lalu berlanjut membuat film2 dari Gathotkaca vol. 1-3, Pringgondani, hingga Grammar vol. 1-3,5. Dulu bersama Rudi dan Astoto , Sholikin bergabung dalam RASis Film, menelurkan film2 Gathotkaca 1-3. RASis bubar dan Sholikin jalan sendiri dengan Gathotkaca Studio-nya bikin simple animasi yang lain seperti seri Grammar.
Mungkin nonton Grammar bakal bikin kita semua ngakak, karena imbuhan khas suroboyonya, pisuhannya yang selalu khas dan bikin ngakak. Film ini bukan cuma melestarikan budaya misuh tapi juga berisi macam2 kritikan Sholikin akan sekitarnya, isue yang saat ini marak di surabaya maupun indonesia. Coba deh ditonton saja film2nya. Sholikin gak cuma mengocok perut penonton tapi juga berusaha memasukkan pesan2 budaya.
Jadi kurasa kemenangan Sholikin kali ini layak dia dapatkan! Teruslah menghibur dengan simple animasimu ya kin! Salut!
Kurnia, Gunawan, Iyud, Sholikin, Renzzy, dan saya
Hellofest 6 kemarin saya tak hanya berjumpa dengan Sholikin tapi juga temen2 kuliah lainnya *yang kerja dijakarta* wah jadi seperti reuni! bertemu dengan Iyud, Boy, Ega, Gunawan, ketemu dengan Renzzy *sesama pejuang di INFIS* dan Kurnia *animator/komikus dari jogja*. Masing2 telah memiliki kehidupan masing2 ada yang berprestasi di hobinya seperti Sholikin, berprestasi di tempat kerjanya masing2. Salut dan tetap semangat untuk teman2 semua yaaaa!!!
Oh iya saya lupa menyantumkan film Grammar 3: Mantab Jaya itu, ini selamat misuh ngakak yaaa..