Tampilkan postingan dengan label review mata dan telinga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label review mata dan telinga. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Juni 2016

Review Short Animation Competition XXI Short Film Festival 2016

Ini kejadian kapan ya? April atau Maret? Kok saya agak2 lupa...

Hari Sabtu nonton pemutaran Short Animation XXI Short Film Festival 2016.





Ada 6 film yang terpilih menjadi nominasi. Nah akan saya review singkat ya.. Keenam film ini menarik dengan teknik yang keren2 dan cerita yang ringan malah kadang terlalu ringan 

Biru

Teknik yang digunakan stopmotion, menggunakan puppet, premis cerita menarik dan eksekusi juga menarik, liar dan unik. Ceritanya tentang procrastinating, menunda-nunda sesuatu.


Kapur Ade

Yup film pendek animasi 2D dari Lanting Studio ini masuk nominasi. Kisah tentang anak jalanan di jakarta yang menjadikan kemacetan Jakarta sebagai playground mereka.


Linimera

Film pendek animasi 3D dengan warna hitam putih dan merah, warna merahnya warna benang yang menghubungkan waktu hidup tokoh-tokohnya. Premis yang saya tangkap tentang gunakan waktumu bersama orang yang kamu cintai atau keluargamu. Hidup itu singkat, dan terkadang ada hal-hal yang perlu dinikmati saja agar kamu tidak kehilangan momenmu.


Rexi: The Great Return

Film pendek animasi 3D dengan teknik animasi dan tokoh karakter yang bagus dan keren tapi..Kalau untuk dilombakan 1 film ini saja berasa kentang dan kurang. Selesai nonton jadi punya banyak pertanyaan kelanjutan dan lain2nya bagaimana. Film ini cocoknya diseting untuk serial, entah jadi web series atau ditayangkan di TV?
Lalu premis ceritanya apa? Nah itu dia ceritanya gak berbekas jadinya saya gak ingat :))) hahaha...


Zlo: The Great Runner

Entah kenapa banyak judul dengan tulisan The great-the great-nya ini deh.. :))
Animasi 3D, dengan bentuk karakter yang agak ajaib menurut saya.. Ceritanya menarik, bagaimana mengatasi ketakutanmu untuk sesatu yang besar yang akan kamu jalani di depan.


Alien CG

Ini juga animasi pendek 3D yang cocoknya jadi web series atau serial TV, karena karakternya menarik dan baik serta menjual. Lalu cerita juga sederhana, geje bahkan agak2 gak penting gitu deh tapi menghibur, terbukti banyak penonton yang tertawa saat film ini ditayangkan :D

Penasaran sama film2nya? coba cari di Youtube deh, saya rasa ada semua hehe :D
Bilang aja males nyari linknya :))))

Kamis, 14 April 2016

Kapur Ade menang Gold Award Viddsee Juree Indonesia 2016

Ini kejadian tanggal 5 Maret 2016 lalu.

Film Kapur Ade (Little Sister's Chalk), film animasi 2D terbaru Lanting kalau saya bilang adalah film yang paling lama menentukan akhir ceritanya, kenapa saya bilang begitu? Berulang kali si mas mengeluarkan banyak ide untuk menentukan akhir film ini, macem-macem alternatif endingnya, padahal pengerjaan film ini sudah lama kalo gak salah dari tahun 2015 awal. Film ini pernah diikutkan FFI 2015, hanya masuk dalam nominasi saja.

Lalu si Mas masih mengedarkan Kapur Ade di berbagai festival dalam dan luar negeri, hingga salah satunya diikutkan ke Viddsee Juree Award. Viddsee sendiri adalah sebuah multiplatform online yang mengumpulkan dan memilih film pendek serta cerita Asia terbaik untuk ditampilkan di www.viddsee.com. Platform ini diklaim memiliki basis audiens internasional yang luas, serta mempromosikan film pendek Asia terbaik ke seluruh jaringan film pendek, festival, dan film market. Lalu Viddsee Juree Awards adalah kompetisi untuk merayakan film pendek Asia dari berbagai genre; fiksi, dokumenter serta animasi. Indonesia mendapat kehormatan dan terpilih sebagai negara pertama yang untuk meluncurkan edisi perdana Viddsee Juree Awards, dimana pembuat film pendek Indonesia mendapatkan berkesempatan filmnya ditonton dan dipilih oleh panel juri internasional.

Nah iseng- iseng diikutkan dan akhirnya Kapur Ade masuk nominasi dalam kompetisi ini, ketemu lagi dengan beberapa film pendek lain, beberapa malah sudah sama-sama sering lihat filmnya wara wiri di kancah festival film juga hehehe. Tanggal 5 Maret 2016 itu tibalah pengumuman si Viddsee Juree Award edisi Indonesia ini. Acara awardingnya dilakukan di IFI Jakarta yang bertempat di jalan Thamrin.

Saya sempat menonton pemutaran film2 nominasinya, ada sekitar 10 film pendek dengan berbagai genre. Idenya banyak yang menarik dan nyeleneneh. Saya ketemu lagi dengan film Wachten Staad-nya Mas Fajar dan Digdaya Ing Bebaya (of The Dancing Leaves)-nya Mas BW Purbanegara.
Dalam kompetisi ini saya sih gak mikir kalo akan menang, karena filmnya keren2 semua. Feeling saya sih Digdaya Ing Bebaya bakal menang, dan emang bener! Film dokumenter karya Mas BW ini meraih juara ke dua. Pulang2 bawa kamera Black Magic.

Pas pengumuman juara pertama, makin kagetlah saya ternyata yang menang ialah film Kapur Ade!
Film Kapur Ade menang Gold Award Viddsee Juree Indonesia 2016.
Yak ampun mimpi apa dapet kamera Blackmagic tipe URSA EF!
Alhamdulillah! Sama seneng juga dapet trip ke Singapura (yang entah kapan) untuk berkunjung ke kantor Viddsee di Singapura (ples jalan-jalan juga).

pengumuman yang bikin kaget itu >.<



kamera yang masih belum dipakai sampe sekarang


Hehehe gak nyangka banget, film Kapur Ade diapresiasi oleh juri2 panel internasionalnya, ada 3 juri di kompetisi ini yaitu Masoud Soheili (pembuat film independen Iran yang sering menang festival), James Lee (pendiri Doghouse 73 dan salah satu pelopor pembuat film pendek independen di Malaysia di masa sekarang), dan Eiji Shimada (sutradara film pendek asal Jepang yang film pendeknya juga sering menang di beberapa festival internasional). Wahh.. diapresiasi oleh juri-juri yang berpengalaman juga dalam perfilman pendek. Seneng banget hehehe...

Kalau denger penjelasan mereka kenapa memilih pun juga sangat senang, beberapa pesan mereka dapatkan dari film sederhana ini. Hihihi kenapa ya, kalo denger komentar orang tentang film yang sudah dibuat itu rasanya senang-senang deg-degan. :D “Kekuatan utama Kapur Ade terletak pada kemampuan pembuatnya dalam menyampaikan narasi yang mampu menceritakan tentang wajah dan semangat Indonesia kepada penonton asing, dengan karakterisasi yang unik sekaligus imajinasi tinggi,” ini kata Masoud Soheili ketika mewakili ketiga juri saat menjelaskan alasan kemenangan film Kapur Ade.




Minggu, 28 Februari 2016

Review film: The Revenant

Setelah menonton Siti, Surat dari Praha dan, A Copy of My Mind, akhirnya rampung juga nonton The Revenant. 

Mengejar hingga ke studio2, ke ujung bioskop tertentu. Yup, saya baru nonton film ini setelah film ini hampir apkir dari layar lebar. Sebenarnya saya sdah pengin nonton ini saat saya tahu dia masuk nominasi Oscar 2016, saya sudah lihat trailernya di bioskop yang terasa apik, seru menegangkan dan dihibur oleh lansekap yang indah. Wih makin penasaran banget! :D Tapi.... sayangnya ada banyak film indonesia bagus yang sedang diputar dan kapan lagi saya bisa nonton film2 tersebut? Daur hidup film indonesia di layar lebar lebih singkat daripada film hollywood. Jadi saya baru mengejar The Revenant setelah usah menikmati 3 film indonesia pilihan saya.

Bagaimana The Revenant? Bagus! Pertarungan beruangnya sungguh menegangkan, saya harus merem melek untuk menikmati adegan pertarungan beruangnya yang intens, brutal, dengan darah dimana-mana, terasa nyeri, ngilu, dan lain sebagainya, usai pertarungan berujung kasihan, sakit dan bermacam2 rasa dari film yang tergambar.

Dan satu lagi yang bikin saya mengumpat karena terpukau dan 'arrgg gila itu gila banget!' yaitu adegan melawan rasa dingin di dalam perut sang kuda. Disitu saya merasakan bagaimana melawan rasa dingin yang merasuk dan haurs tetap survive hidup, astagah dinginnya benar2 merasuk dan saya terheran-heran, kok bisa sih kepikiran mengambil jalan itu?

Dua poin itu yang bener2 menyentuh saya saat nonton The Revenant, perihal premis film untuk membalas dendam atau mengejar pembunuh anaknya pun hampir terlupakan oleh saya. Saya sungguh lebih terpukau dengan lansekap negeri dingin yang indah dan bagaimana bertahan hidup di alam liar yang bar-bar di masa itu.

Dan apakah Leonardo di Caprio pantas mendapatkan penghargaan Oscar yang telah dinantinya bertahun-tahun? Ya, kurasa dia pantas mendapatkannya. Bagaimana dengan Innaritu sang sutradara?
Masih pantas juga, tapi menurutku ini bukan karya terbaik Innaritu :) Birdman masih lebih cakep, dan Biutiful masih lebih menyentuh saya... hehehe... (ya mungkin ini masalah selera sih).

Ada yang belum nonton The Revenant? Tontonlah, worth it kok :D


Senin, 17 September 2012

Review: Jiro Dreams of Sushi (2012)


Udah lama banget saya ndak me-review film ya, setelah hampir membuat blog sendiri menjadi blog resep mari sedikit mewarnakan blog lagi dengan review film :) Kebetulan akhir2 ini saya lagi sering nonton film, film donlotan tepatnya, aslinya sih saya lagi gak pengin nonton banget tapi berhubung si mas gandrung banget nonton (setelah diamati si mas selalu nonton sebagai pengantar tidur dan teman makan) ya akhirnya saya jadi ikut nonton juga deh :p

Film yang kali ini saya tonton ialah Jiro Dreams of Sushi, film dokumenter tahun 2012 ini salah satu film dokumenter jepang tentang makanan yang bikin saya pengin makan sushi saat itu juga! (hehehe lebay deh) :p. Dari penceritaannya khas jepang, tegas, mengalir dan detail (yang mungkin ini juga salah satu daya tarik dan kewajiban film dokumenter sih...) karena menurut saya film dokumenter itu sebenernya boring. Tapi.... kalo penceritaannya mengalir, enak ditonton, detil, dan tidak membosankan saya betah-betah saja untuk menontonnya.

Hampir mirip dengan film Udon yang pernah saya review juga di blog, memasukkan unsur budaya pada dokumenter makanan juga menjadi daya tarik tersendiri. :) Penonton disuguhi tidak hanya sekedar bagaimana membuat sushi, namun juga filosofi dari bikin sushi itu sendiri.

Sushi yang enak menurut Pak Jiro Ono tentunya, yang bahannya segar pilihan ikannya pun dibedakan (saya saja yg nonton tak bisa membedakan mana salmon yang A dan yang B) :)) Masakan yang enak itu apabila selain terdiri dari bahan2 berkualitas, dibentuk dengan cantik (jepang terkenal dengan seni menghias makanannya, bisa dilihat dari hasil makan jepang selalu tampak menarik untuk dimakan), juga efek dari kebersihan alat2 memasak. Wah wah  ini bener banget, menjaga kualitas dari segi higienitas.

Saya juga terpukau dengan warung pak Jiro ini, sederhana banget, warung yang kecil tapi bersih dan cuma punya 10 bangku untuk pengunjung. Untuk bisa makan di situ pengunjung harus merogoh kocek sebesar 30.000 Yen, yang kira2 dikurskan menjadi sekitar 3 juta! Buset, dan itu sekali makan (kalo lihat di filmnya sepertinya all u can eat gitu). Untuk makan di sana juga harus pesan kursi jauh-jauh hari. Edaaan... :)) saya melongo pas menontonnya.
Emang ya kualitas warung yang sudah diakui secara internasional itu benar2 tetap menjaga kualitasnya. Mungkin ada restoran yang setelah sedikit punya nama lalu langsung memperbesar kapasitas warung atau restonya atau bahkan ekspansi ke luar daerah atau bahkan luar negeri, tapi pak Jiro tetap bertahan dengan warungnya itu, selama bertahun-tahun hingga anak pertamanya yang melanjutkan usahanya.

Pak Jiro ini punya 2 anak, 2-2nya laki2 dan seperti kebanyakan tradisi di asia, penerus usaha keluarga selalu anak yang pertama. Dua orang anak pak Jiro ini menggeluti bidang yang sama, bahkan anak keduanya juga membuka kedai sushi (anak yang pertama melanjutkan kedai bapaknya). Kemampuan mereka sama dengan bapaknya, hasil didikan bapak mereka yang kaku, dan perfeksionis. Namun kelebihan anak2 pak Jiro ialah kesupelan mereka, karena ramah dan hangat warung mereka lebih laris dari warung bapaknya. Kebayang ya sekaku apa pak Jiro ini hehe :D

Film ini menarik :D serius, apalagi jika Anda pecinta sushi, kuliner, budaya Jepang, dan dokumenter. Tapi kalau Anda penggemar film romantis, aksi laga, sains fiksi, disarankan Anda tidak menontonnya (ya iya lah!) :)) nanti bisa-bisa Anda tertidur pulas dibuatnya hehehe....

Selamat mencari filmnya yah :D

Kamis, 28 April 2011

Konser The Whitest Boy Alive dan MGMT

walau jarak jauh dari panggung tak menyurutkan saya untuk menikmati aksi mereka

Lagi, sebuah postingan yang terlambat lagi….

Saya nonton konser artis luar lagi untuk yang kedua kalinya, bukan.. bukan konser Justin Bieber :)) konsernya sudah lama kok pas tanggal 26 Maret 2011. Bayangpun! itu sudah sebulan yang lalu kaliii hahahaha….

Iya saya nonton Beat Fest yang mendatangkan Erlend Oye dengan grup The Whitest Boy Alive dan MGMT.
Pertama kali tahu ada konser ini karena Erlend Oye nya jelas… hihih tak cukup saya menontonnya di konser KOC beberapa waktu lalu saya penasaran bagaimana performanya di grupnya yang lain :) Tapi ada satu nih saya masih terasa asing dengan MGMT. Sekitar butuh waktu 2 bulanan saya membekali diri dengan lagu antik MGMT dan viola! saya akhirnya jatuh cinta setelah hampir setiap hari saya mendengarkan 3 albumnya. Jujur band dengan aliran musik psychedelic ini asing untuk saya dengar pertama kalinya, ada banyak nada2 nyeleneh dan antik. mengingatkan band2 tahun 70an berjaya tapi tetap berasa sentuhan masa kininya (menurut saya).

Berbekal dari 3 album Climbing to New Lows, Oracular Spectacular, dan Congratulations saya berniat mau menonton mereka. Padahal saya ndak tahu siapa personelnya, nama2nya, asal dari mana dan lain-lain. Ah gak penting, yang penting saya nyaman dulu dengar lagu2 mereka. Tentang siapa mereka masih ada info wikipedia yang menjelaskan kok :p

Berhasil meracuni Partner yang sempat enggan dan ragu untuk menemani nonton. Tapi diluar dugaan 3 hari sebelum hari H akhirnya beli juga tiket presalenya! Asyikkk jadi nonton konser bareng partner!!! :))

Erlend Oye benar2 memukau dengan TWBA-nya, mereka sangat komunikatif saat membawakan lagu2 mereka… suka deh dengan interaksi mereka yang hangat, dan juga lelucon2 yang mereka lontarkan diatas panggung. Permainan merekapun baik dan menghibur (apalagi saat Erlend jejogetan dengan joget khasnya) sangat mengundang tawa =)).

Berlanjut dengan penampilan MGMT yang saya bilang dahsyat! Edan! lebih keren dari lagu2 yg saya dengar di playlist. Beberapa lagu yang menjadi hits di sini benar2 bikin penonton berjingkrakan termasuk saya :)) Kepulan asap rokok yang memenuhi Bengkel Night Park dan panasnya udara di dalam gak menyurutkan saya untuk melafalkan beberapa bait lagu yg saya ingat. Secara keseluruhan saya suka dengan aksi MGMT.
Dan lebih tak terlupakan karena menontonnya bareng kamu! :)

Pulang2 dari nonton konser apakah saya masih merasakan euphorianya? Iya saya merasakannya kurang lebih seminggu. Tiap kali dengerin lagu MGMT selalu teringat suasana konser malam itu. Keren! :D


Selasa, 30 Maret 2010

Mendadak jadi abegeh labil gara2 Kings of Convinience

Erlend pake baju abu2 kebiruan dan Eirik tampak manis dengan kemeja putihnya..

Kings of Convinience bersama bassist dan drummer White Shoes, saat memainkan lagu I'd Rather Dance With You

Kings of Convinience (KoC) manggung di Jakarta! pertama kali denger berita itu saya langsung histeris, kyaaaaaa...... mau nontonnnnnn!!! laughing wakakaka.. langsung seketika darah abegeh saya memuncak! Heart ternyata saya punya teman senasib Myaw dan Linda si Kucing_usil gak lupa juga Tantru temen kuliah saya yg kebetulan hijrah ke jakarta karena pekerjaan. Berburulah saya tiket dari bulan Januari, karena takut kehabisan langsung terbelilah di bulan itu. Bayangin tuh padahal saat itu saya baru saja pulang dari travelling tahun baruan ke Surabaya, ah mendadak miskinlah saya setelah tiket itu terbeli! tongue ah tapi gak papa untuk KoC kupikir itu cukup layak lah....

Konser dilaksanakan pada tanggal 28 Maret 2010 di Ballroom Pasific Place jakarta. dan ke empat abegeh labil yang tidak sadar umur ini langsung kebingungan cari kostum tampil dan dandan habis2an *halah padahal emang mau dilihat sama KoC*? hee hee wekekeke... ah tapi jujur saya akui, ngefans sama idola itu emang bikin jadi lupa daratan! saat hari H bentar2 Myaw sms saya kalo nervous, yang gak nafsu makan lah sampe lupa sarapan, yang mendadak jadi sembelit lah, ada lagi tantru yang gak sadar jadi sibuk gonta-ganti baju beberapa jam menjelang acara mau di mulai. Sedangkan saya sendiri malah bingung mau pake apa! maklum saya ini newbie konser lmao iya...iya.... saya udik, gak pernah nonton konser ben luar negeri! tongue dan Linda! wuihhhh perjuangan mencari tiket pulang ke jakarta tercepat dari tempat dinas LN dia. rolling on the floor busettt si Linda apa gak capek ya? hihihih..... tapi yang namanya hyperexcited mana berasa sih capek dan macam2nya itu? pokoknya dalam otak kita semua KoC!

Antrian panjang gak jelas, lama bangetttt, air minum dan makanan di razia, kamera dilarang di bawa masuk, dan pemeriksaan berkali2. Kami semua pasrah digeledah demi KoC *halah* sampai akhirnya kami ber empat memasuki ruangan konser, menyerbu ke depan panggung, desak-desakan :p acara di buka dengan penampilan 3 band pembuka Hollywood Nobody (band asal Bandung), White Shoes and the Couples Company, Jens Lekman. B-)

Dan akhirnya KoC pun main sekitar jam setengah 11 malam. Dan seruangan langsung histeris berteriak! Kyaaaaaa!!! saya dan Linda malah balapan jejeritan! lmao wakakakaka.... saya deg-degan, suasana ruangan terasa mencekam, jantung rasanya mau copot, ah saya bisa nonton KoC langsung! mereka menyanyikan lagu2 itu langsung! OMG!!!! *cihh noraknya sayaaa*

Hingga akhirnya lagu yang paling saya suka Cayman Island pun dinyanyikan, sumpah mata saya langsung berkaca2 dan air mata pun menetes sepanjang lagu itu, Tears oh God saya mewek! Lagu kenangan saya jaman kuliah dan masih saya suka sampai sekarang, lagu yang romantis yang selalu membuat saya jadi menye2 dimanapun dan kapan pun. Kini saya mendengarnya langsung, petikan gitar yang tegas dan ngelangut, dan suara yang jernih diikuti suara lirih saya menyanyikan tiap bait lagunya....itu moment yang berkesan, tak akan saya lupakan sampai kapanpun...

Sampai akhir mereka menyanyikan lagu Homesick pun saya masih berasa dalam mimpi, dan akhirnya konser selesai dan kami pun pulang. Apa sudah berakhir? belooom kami berempat akhirnya nyari makan karena kelaparan berat! Akhirnya terdampar juga di McD STC dan tetep kita semua mendadak ceriwis bak abege habis bertemu idola Scenic saling mengungkapkan perasan masing2 saat konser tadi dan sibuk ngomentarin penampilan Mas Erlend dan Mas Eirik di panggung tadi laughing wakakaka....

Gak terlupakan... sumpah saya senang banget! kalo mereka main lagi di jakarta, saya mau nonton lagi! sumpah gak mengecewakan! Walau saya gak bisa foto2 tapi seteah googling saya menemukan video rekaman konser mereka di Youtube, dan temen saya kebetulan berhasil memfotonya hihih jadi saya ijin buat di pajang di sini ahhh... batting eyelashes



lihat deh joget wagu dan anehnya Erlend yang kocak! nih cowok lucu banget selama konser jayus2 bikin ngakak! Banana Cool

Minggu, 13 Desember 2009

Grammar Suroboyo di Hellofest 6

Sholikin dengan piagam kemenangannya, ih ini Renzzy ok ikut2 mejeng sih?

Akhirnya menang lagi!
tepuktangan hahaha itu komentar saya tentang kemenangan Sholikin/Si Ikin/Studio Gathotkaca dengan 'Grammar'nya di Hellofest 6 tahun 2009 ini. Kenapa saya bilang menang lagi? saya ndak heran dengan kemenangannya. sengihnampakgigi Ceritanya tentang grammar suroboyo dan ditambahi cerita tentang Lontong Balap, salah satu makanan khas Surabaya *yang juga kesukaan saya* dikemas dalam animasi 2d yang ala kadarnya karena gambarnya jauh dari bagus sukses bikin ngakak2 1 studio pemutaran Hellofest 6 di Balai Kartini Gatot Subroto.

Lembar vote Hellofest 6

Numpang mejeng yaa...

Memang bukan pemenang favorit 1, cuma dapat favorit ke 2 tapi itu sudah membanggakan buat saya teman masa kuliahnya dan bikin si ikin senang banget karena dapet hadiah study tour ke Singapura! Cah ndeso asal Bojonegoro, yang kuliah desain di ITS Suroboyo, bolak-balik ke jakarta menghadiri festival film lantaran filmnya bolak-balik sering diputar dan diapresiasi, ehh sekarang dapat kesempatan untuk ke luar negeri, ke Singapura! Waw!!! hebat kamu Kin!!! Itu semua berkat film Grammar vol. 3 yang diikutsertakannya ke Hellofest 6. menari

Sholikin memang paling suka banget bikin animasi 2d dengan flash, pertama kali bakat menonjolnya saat dia bikin animasi sederhana macam Xiao-xiao (animasi dengan karakter manusia lidi) di kelas animasinya saat kuliah dulu. Lalu berlanjut membuat film2 dari Gathotkaca vol. 1-3, Pringgondani, hingga Grammar vol. 1-3,5. Dulu bersama Rudi dan Astoto , Sholikin bergabung dalam RASis Film, menelurkan film2 Gathotkaca 1-3. RASis bubar dan Sholikin jalan sendiri dengan Gathotkaca Studio-nya bikin simple animasi yang lain seperti seri Grammar.

Mungkin nonton Grammar bakal bikin kita semua ngakak, karena imbuhan khas suroboyonya, pisuhannya yang selalu khas dan bikin ngakak. Film ini bukan cuma melestarikan budaya misuh tapi juga berisi macam2 kritikan Sholikin akan sekitarnya, isue yang saat ini marak di surabaya maupun indonesia. Coba deh ditonton saja film2nya. Sholikin gak cuma mengocok perut penonton tapi juga berusaha memasukkan pesan2 budaya. gelakguling

Jadi kurasa kemenangan Sholikin kali ini layak dia dapatkan! Teruslah menghibur dengan simple animasimu ya kin! Salut!

Kurnia, Gunawan, Iyud, Sholikin, Renzzy, dan saya

Hellofest 6 kemarin saya tak hanya berjumpa dengan Sholikin tapi juga temen2 kuliah lainnya *yang kerja dijakarta* wah jadi seperti reuni! bertemu dengan Iyud, Boy, Ega, Gunawan, ketemu dengan Renzzy *sesama pejuang di INFIS* dan Kurnia *animator/komikus dari jogja*.
Masing2 telah memiliki kehidupan masing2 ada yang berprestasi di hobinya seperti Sholikin, berprestasi di tempat kerjanya masing2. Salut dan tetap semangat untuk teman2 semua yaaaa!!!sembah

Oh iya saya lupa menyantumkan film Grammar 3: Mantab Jaya itu, ini selamat misuh ngakak yaaa..gelakguling



Sabtu, 12 Desember 2009

Okuribito (Departures)

Adalah Daigo Kobayasi, seorang pemain cello yang tergabung dalam grup orkestra di Tokyo jepang. Dia sangan mencintai cello dan suka dengan pekerjaannya. Mendadak harus menjadi pengangguran, karena orkestranya terpaksa dibubarkan oleh pemiliknya, akibat semakin sedikitnya penonton orkestra di jepang. Lantas harus mencari kerja kemana dan seperti apakah Daigo untuk menghidupi keluarga kecilnya? apakah masih dengan bakat cello-nya? fikir

Daigo pun memutuskan pulang kampung ke tanah kelahirannya di Yamagata. Mika, sang istri tidak keberatan, toh pekerjaanya sebagai web designer bisa dikerjakan dengan mudah di mana pun. akhirnya mereka memulai hidup baru mereka di rumah peninggalan ibu Daigo. Rumah yang kecil dan unik, berisi piringan hitam koleksi bapak Daigo yang masih di simpan Ibu Daigo. Ibu Daigo telah tiada, sedangkan ayah Daigo pergi meniggalkannya pada saat Daigo masih kecil. Daigo masih ingat beberapa kenangan manis tentang ayahnya namun dia tidak ingat wajah ayahnya.

Mencari pekerjaan di sebuah kota kecil tidaklah mudah, akhirnya Daigo tertarik sebuah iklan koran. Perusahaan yang berhubungan dengan 'departures' mencari pegawai. Selintas perusahaan ini seperti agen wisata perjalanan, dan segeralah Daigo melamar kerja di sana. Dan ternyata diluar dugaan pekerjan yang akan dilakoninya ialah menjadi asisten seseorang yang menyiapkan jenazah sebelum dimasukkan dalam peti untuk dikremasi. *ya jika di indonesia ialah tukang mandikan mayat dan mengkafani jenazah* gigil

Syok, kaget, takut dan bingung adalah ekspresi Daigo pertama. Bayangkan tugas pertamanya dia harus mendampingi sang bos untuk 'menyiapkan' mayat seorang ibu2 tanpa sanak kalurga yang mati di rumah kontrakannya dan telah membusuk selama 2 minggu. Bayangkan wujud jenazahnya, baunya, kondisinya, belatungnya, yieeekkkkk...... muntah2lah Daigo pada saat ditugasi mengangkat mayat itu..busuk

Bosnya mengganjarnya dengan bayaran mahal 500.000 yen perbulannya. Daigo bimbang antara menjalani pekerjaan "antik"nya ini atau dia mencari pekerjaan lain, namun bayaran yang setimpal itu dia butuhkan untuk menghidupi keluarga. Dijalanilah pekerjaan itu dan dia merahasiakan pekerjaannya dari istrinya.

Daigo bekerja berdasarkan panggilan, jam berapapun itu dan di mana pun itu. kadang subuh2, tengah malam dia harus bekerja, harus pergi ke pelosok desa untuk memenuhi panggilan kematian. Dan Daigo menjumpai banyak klien dan keluarga klien yang bermacam2. Dari sebuah upacara kematian si klien, terbuka seperti apa keluarga mereka, hubungan dengan klien yang meninggal, harmoniskah, di bencikah, ada aibkah, semuanya mau tidak mau harus diketahui oleh Daigo dan sang bos. tapi dengan kondisi seperti apapun jenazah mereka tetap harus menyiapkannya sebaik mungkin, memandikannya, memakaikan kimono kematian atau baju apapun yang akan dikenakan sang klien sebelum dikremasi. Mendandaninya, make up, mencukur kumis dan jenggot jenazah. Semua itu ada upacaranya.around

Saya suka sekali dengan film ini, selain menjadi tahu satu lagi budaya dari jepang yang unik, juga menyadarkan saya jadi tukang mandikan mayat itu juga sebuah pekerjaan halal dan mulia.
Di film ini diceritakan tentang penolakan keluarga dan lingkungan masyarakat dengan profesi ini, mereka menganggap profesi ini gak normal. Banyak orang yang memandang rendah pekerjaan ini, orang2 berpikir jika yang mengerjakan pekerjaan ini terpaksa karena tidak ada pekerjaan lain.adus

Profesi ini tidak mudah, bukan hal sepele, dan sedikit orang yang tertarik menekuni, padahal kematian pasti datang setiap harinya dan setiap detiknya. Lalu setelah meninggal akan diapakan jenazah? langsung dikubur, dikremasi, dilarung? gak begitu juga kan? Pasti ada upacara dan prosesinya berdasar adat, agama, kepercayaan. Siapa yang akan kita kontak jika terdapat musibah seperti itu? Sementara hati berduka, tiba2 harus mengurusi kematian seseorang yang kita cinta. Untuk inilah ada profesi pengurus kematian, tukang mandikan mayat, tukang kubur mayat, tukang kremasi. Profesi yang mulia dan tinggi derajatnya diantara profesi yang lain.angel

Tonton deh film ini, coba dicari dvdnya, dibeberapa tempat sudah ada yang jual, saya kebetulan nonton Okuribito di Jiffest 2009 ini. Mungkin bisa juga dicari link donlotnya kalo mau. Departures (おくりびと Okuribito) film jepang produksi tahun 2008, sutradara Yōjirō Takita. Memenangkan Academy Award for Best Foreign Language Film di Oscars 2009. Dan meraup pemasukan $61,010,217 di Japan pada bulan April, 2009. Film ini bikin saya mewek di beberapa scene yang memang mengharukan dan bikin saya tertawa juga di beberapa scene karena konyol dan lucu. Durasinya memang panjang 131 menit, 2 jam lebih! tapi dijamin tidak membosankan apalagi jika dihibur dengan alunan cello sebagai scroring lagu dalam beberapa adegannya. Selamat nonton ya. kenyit

Jumat, 27 November 2009

Anak-anak Lumpur, Film Fiksi Terbaik di FFPK 2009


Kemarin selama 4 hari berturut2 menghadiri pemutaran FFPK 2009. Mulai dari pembukaan sampai penutupan dan awarding. Nah apa oleh2 saya dari malam penganugerahan itu? Baiklah... sebelumnya ada 10 film yang masuk kompetisi. Nah ke-10 film itu di putar dan dinilai olah para penonton yang hadir dengan cara voting dan dinilai juga oleh para dewan juri. Juri FFPK tahun ini ialah Arief Ashshiddiq (Editor), Eric Santosa (Dosen Psikologi Budaya), dan Wendi Putranto (Editor majalah Rooling Stones). ketiga juri ini sepakat kalau pemenangnya ialah Film Anak-anak Lumpur, yang disutradarai Danial Rifki... wahhhh selamat!

Dan untuk penerima penghargaan Konfiden (berdasar hasil voting), Anak-anak Lumpur juga menang dalam perhitungan suara voting. Selamat!!!!!!
Saya tahu film ini dari penulis skenarionya Pidi (Perdana Kartawiyudha), bolak-balik dia sibuk jumpalitan untuk mengulik skenario film TA dia ini. Ubah inilah ubah itu lah...hihihi saya sekilas sudah baca ide cerita film ini. Kalo premis ceritanya itu bla..bla..bla...

Dan tibalah saya nonton film itu pertama kali di pemutaran pada perayaan ultah Serunya Scriptwriting Playgroup. Saya tercekat *halah bahasanya* feelnya dapet banget! Ah bilang aja kalo saya mau memuji film teman saya.... hehehehe.. bukan bukan seperti itu, lupakan kalo pembuatnya saya kenal, lupakan kalo saya pernah tahu premis ceritanya. Saya benar2 menikmati film ini.

Bagaimana sebuah bencana Lumpur Lapindo yang melanda Sidorajo, dibuat tetap dramatis, mengharukan, memiriskan tapi tidak terkesan menye2 atau pun cengeng. Itulah nilai lebih film ini. Fakta yang ada di film ini, benar2 sudah di riset oleh pembuatnya*untuk riset menghabiskan berbulan*. Dari kondisi pengungsi yang rumahnya sudah kerendam lumpur, gimana penanganan pemerintah yang membuat mereka terkatung2, penyakit yang melanda seluruh pengungsi, akses yang putus dan sulit, fenomena wisata bencana yang mendadak ngetrend pada saat bencana ini mencuat di media. Iyah semua hal yang muncul karena efek bencana ini tidak diceritakan secara gamblang sekali karena ini bukan liputan berita di tivi. Tapi dikemas sedemikian rupa pada ceritanya sehingga mampu memperkuat drama dari cerita ini. Itulah yang saya suka..

Cerita ini mengisahkan tentang seorang anak pengungsi bersama para sahabatnya bagaimana mereka mempertahankan "harta" yang masih mereka miliki.Entah itu rumah mereka, harta benda mereka, orang tua mereka, persahabatan, hingga rasa cinta *halah*. Agak tidak terlalu kelihatan sih tentang rasa cinta itu. Penulisnya berkata bahwa sang tokoh utama itu memiliki rasa pada sahabatnya (wulan) namun seperti yang terlihat ada kisah cinta segitiga khas anak2 diantara mereka. Tapi kok saya ndak merasakan feel itu ya? Saya malah hanya melihat mereka itu cuma anak2 yang bersahabat dan doyan main ditengah kesedihan akan musibah. Ini menurut saya sih...

Saya juga suka opening cerita, dengan muatan lokal tentunya full boso suroboyoan yang bikin saya selalu ketawa ngakak. Dan itu menghanyutkan saya sampe akhir film. *ah film ini sukses bikin saya kangen suroboyo*

Satu lagi efek saya tercekat, speechless pas nonton ini ialah saat ada rapalan doa diawal dan akhir film.. iya doa selamat dunia akhirat yang umunya selalu mengalun di mushola2 atau mesjid2 di desa di daerah jawa timur. Scoring suara ini bikin makin menambah khidmat filmnya dan membangun emosi dalam film ini, sedih, miris, marah, kecewa, dan pasrah.
Saya mungkin tidak bercerita detil tentang filmnya. kalo saya ceritakan detil nanti spoiler banget hehehe.. mending nonton langsung saja film pendek ini. Film ini juga akan diputar di jiffest tanggal 6 desember jam 7 malam di Blitzmegaplex Grand Indonesia, masuk dalam Short's Film Indonesia.

Kamis, 12 November 2009

nDalang Boneka Sesame Street Ndak Mudah Lho...

Mendapat beberapa gambar dari teman tentang cara menggerakan boneka Sesame Street jadi bikin saya penasaran untuk mencari artikelnya, dan menulis di sini.


Sesame Street ulang tahun yang ke 40, dan untuk itu selama +/- 2 minggu Google mengubah logonya di halaman depan browser dengan gambar2 Sesame Street. Ada Elmo, Ernie dan Bert, Count Dracula, Cookie Monster, Big Bird, dll.

Menurut Bang Wiki, Sesame Street adalah sebuah acara pendidikan anak-anak yang berasal dari Amerika Serikat untuk anak-anak pra-sekolah dan merupakan perintis standar televisi edukasi kontemporer yang menggabungkan pendidikan dan hiburan (edutainment). Sesame StreetMuppet, yang dibuat oleh Jim Henson, seorang pemain boneka (puppet). Terdapat lebih dari 4.134 episode yang telah diproduksi selama 37 musim. Musim pertama penayangannya berjumlah 130 episode, tapi musim ke-36 hanya sebanyak 25 episode. Dengan jumlah episode sebanyak itu, Sesame Street merupakan salah satu serial acara televisi yang paling lama tayang sepanjang sejarah pertelevisian.

Sesame Street diproduksi di Amerika Serikat oleh sebuah organisasi non-profit Sesame Workshop, sebelumnya bernama Children's Television Workshop (CTW), yang didirikan oleh Joan Ganz Cooney dan Ralph Rogers.

Karena acara ini memberikan pengaruh yang sangat positif, serial originalnya sudah ditayangkan di 120 negara,[2] dan lebih dari 30 versi internasional yang sudah diproduksi, tidak termasuk versi sulih suara. Di Indonesia, Sesame Street pernah ditayangkan oleh stasiun televisi TVRIRCTI dan SCTV pada awal dekade 1990-an. Selain itu, juga telah dibuat Sesame Street versi Indonesia yang dinamai "Jalan Sesama" versi remake. Acara tersebut ditayangkan di Trans7 mulai 18 Februari 2008.



si Tantan orangutan


Yah Jalan Sesama merupakan versi lokalnya dari Sesame Street yang di buat sesuai dengan adat budaya di Indonesia. Makannya kalo melihat Jalan Sesama akan terasa berbeda sekali dengan versi Amerikanya. Ada tokoh si Tantan Orangutan, tokoh si Momon dan Putri yang merefleksikan anak2 Indonesia. Juga lihatlah video aktivitas di Jalan Sesama selalu memperlihatkan lingkungan khas Indonesia. Gambar saya cantumkan dan saya dapat dari blog salah seorang pembuat naskah skenario Jalan Sesama, Ratih Kumala.


Momon dan Putri


Versi lokal ini ternyata juga di buat di negara2 lain seperti data di sini (yang merupakan tulisan ulang Majalah Tempo Mei 2007). Di Mesir, misalnya, Sesame Street menjadi Alam Simsim, yang banyak bicara tentang hak perempuan, di Bangladesh menjadi Sisimpur dan bertutur tentang gizi dan kesehatan. Adapun versi Afrika Selatan bernama Takalani Sesame, banyak membahas soal antidiskriminasi dan HIV. Versi Israel menjadi Rechov Sumsum, yang banyak memperhatikan soal komunikasi dan perdamaian. Jalan Sesama di buat dengan fokus pada tema kebersamaan dan perbedaan.

Kembali ke gambar kiriman teman saya itu, seperti apa sih gambarnya?
Ternyata gambar cara menggerakkan boneka Sesame Street. Ah itu pertanyaan saya pada masa saya kecil. Bagaimana sih nggerakin boneka itu hingga gerakan mereka begitu halusnya? Apa ada orang di dalamnya? Seperti badut2 ulang tahun pada umumnya? Kalo bonekanya kecil gimana?


Jawabannya saya temukan di sini, salah seorang penggerak boneka dongeng untuk anak2 korban bencana bercerita tentang pengalamannya mendapat pelatihan dari Ronnald Binion dan Amanda Maddock mereka ialah penggerak boneka di acara Lazy Town (Nickelodeon) dan Sesame Street.


Cara menggerakkan boneka memang ada banyak cara, bisa dengan 1 orang atau dengan cara tandem (2 orang atau lebih). Cara satu orang seperti memainkan wayang golek/ wayang kulit, namun bedanya salah satu tangan kita masuk kedalam kepala boneka dan mengendalikan gerak bibir boneka. Sedangkan tangan kita yang lain memainkan tongkat yang mengendalikan tangan boneka. Boneka harus diangkat tinggi, lebih tinggi dari dalangnya. Maksudnya agar anak2/penonton lebih terfokus dengan bonekanya bukan sang dalang. Sedangkan jika di studio Sesame Street, sang dalang akan bersembunyi di balik dinding atau meja miniatur suasana. Dan tidak boleh terlihat. Tangan harus kuat menahan boneka sekaligus menggerakkannya. Karena tangan kita berfungsi sebagai tulang punggung si boneka.



Cara menggerakan boneka ke 2 ialah dengan versi tandem, biasanya dilakukan 2 orang atau lebih. jadi ada yang mengendalikan kepala boneka sementara yang lain mengendalikan tangan boneka (tangan boneka yang berjari). mungkin ini lebih tepat pada adegan memegang sendok, makan, atau membawa suatu benda di tangan si boneka. Untuk menggerakkan boneka tandem, harus berlatih berulang kali sampai kompak, karena satu dan yang lainnya harus saling mengisi gerakan agar terlihat luwes.


Dan cara yang satu lagi ialah dengan menggunakan si boneka. Jadi sang dalang masuk dalam baju boneka. Saya bertanya-tanya yang jadi Big Bird apa tidak capai ya? lalu tangan satunya yang menggerakkan itu siapa? Saya masih heran dengan penggerak Big Bird ini. Dulu saya pikir karena Big Bird itu tinggi dan besar jadi di mainkan satu orang berkostum Big Bird (seperti cara memakai boneka badut). Tapi kok di rasa kurang tinggi ya? atau jangan2 mungkin 2 orang bergendongan. Yang satu Menggerakkan mulut dan kedua tangan, yang lain menggendong dalang pertama dan kakinya menjadi kaki si Big Bird. Wah entahlah mana yang benar :))

Menggerakan boneka tangan tidak mudah, harus sesuai dengan dialog. apabila bilang "Sa-tu" tangan pun harus bergerak seolah2 boneka menggumamkan mulut ngomong "Sa-tu". Harus tepat dan kelima jari kita harus stabil. Belum lagi laku gerak boneka. Bagaimana cara berjalan. Menoleh, Menggaruk kepala atau apapun itu. Harus di coba berulang kali dan senatural mungkin seperti jika manusia bergerak. Wahhh sulit ya ternyata main boneka tangan itu? Karena nyawa boneka tangan itu ada ditangan si dalang. Oh iya suara juga berperan besar dalam sandiwara boneka. Biasanya suara dimainkan sedemikian rupa hingga menarik penontonnya.

Ada yang berminat jadi dalang Boneka Sesame Street? :D


Selasa, 10 November 2009

Nonton Europe on Screen 2009


Setelah Sabtu gagal untuk nonton Europe on Screen 2009 akhirnya Senin kemarin saya nonton sendirian. Karena yang dekat dengan kantor ialah Goeteh House jadi saya langsung cabut ke setelah jam pulang kantor.

Saya berniat mengejar Best Europe Short Film, tapi saya cuma kebagian 3 film saja. Gak apa tapi saya cukup terhibur. Namun film yang mau saya bahas kali ini bukan yang Short movienya tapi yang film panjang, yang di puter jam 19.30.


Film tersebut berjudul :

IL VENTO FA IL SUO GIRO (THE WIND BLOWS ROUND)

Italy | 2005 | Drama | 110 minutes | Italian with English subtitle

Director: Giorgieo Diritti


Judulnya rada aneh ya... panjang hehe. Ini film Italia, berkisah tentang sebuah desa di perkampungan Occitan di Pegunungan Alpen Italia. Desa ini sangat indah, dan sering dijadikan tempat wisata pada saat musim panas. Nah lalu datanglah seorang keluarga gembala dari Perancis. Mereka datang untuk menetap di desa itu. Si gembala suka daerah itu karena cuacanya cocok untuk menggembalakan kambing2nya. Ia juga seorang pembuat keju rumahan dari susu kambing. Di desa itu dia akan mendirikan usaha pembuatan keju, dan disambut gembura oleh penduduk desa itu. Semua bahu membahu membereskan rumah yang akan di sewanya. Di cat, dibetulkan gentingnya, dibersihkan dari barang2 bekas. Pokoknya keluarga penggembala itu tinggal datang dan menempati saja tanpa perlu bersusah payah.



Awal mulanya kedatangan si penggembala akan membuka kesempatan akan hidup baru di desa itu. Tapi namanya juga warga desa, jika pendatang baru tidak mengikuti aturan tata krama desa itu langsung jadi bahan pegunjingan. Dari ritual pemberkatan rumah baru, sang gembala ndak mau melakukannya. Lalu tentang kambing2 gembalaannya yang makan di lapangan rumput luas dan memakan padang rumput milik tetangga. Padahal padang rumput itu terbuka untuk umum, gak ada pagarnya. tapi ada warga yang marah dan gak setuju.


Para pria desa itu, ndarmus (mupeng) melihat kecantikan istri si penggembala, mereka kadang mencuri intip sang istri sedang mandi atau mencuci baju. Lucu lihat yang scene ini :)) Ternyata ndak cukup sampai di situ, bahkan karena iri dan dengki mereka terhadap tetangga baru ini mereka sengaja membuat fitnah, surat kaleng, menyebarkan isyu gak sedap dan makin lama menyakitkan.

Awalnya keluarga gembala kerasan dan betah, senang dengan kebaikan2 mereka yang berlebih, namun kok makin banyak fitnah2 dan isyu2 tidak jelas. Hingga puncaknya saat kepala desa yang kebetulan dekat dengan keuraga gembala pergi ke kota selama beberapa hari. Fitnah yang dilancarkan makin menjadi, bahkan melukai salah satu warganya.

Kepala desa pulang dengan setumpuk berita miring, dan meminta pertanggung jawaban dan penjelasan dari penggembala. Situasi rumit, akankah sang penggembala dan keluarga tetap tinggal di situ? atau mungkin malah pergi? Ah lebih baik dicari aja deh filmnya atau nonton di Europe on Screen :D

Saya pikir ini film baru, ternyata film ini sudah cukup lama, produksi tahun 2005. Sepanjang film saya di suguhkan oleh indahnya pemandangan kaki pegunungan Alpen. Wuihh indahhh bener.... :D

Alur film ini berjalan lambat namun naik perlahan-lahan. Tidak terlalu banyak dialog, sedang saja, namun banyak memperlihatkan gerak (aktivitas), saya jadi tahu kebiasaan di desa di negeri Italia itu seperti apa, bikin keju itu gimana, menggembala kambing, memerah susu. Yah kehidupan sehari2 di desa itu bikin saya amazed takjub *halah ndeso deh saya* :))
Apalagi saat muncul konflik2, semua terbangun dengan rapi dan menggemaskan *kayak nonton sinetron indonesia dong* :)) ahahaha Pokonya jempol buat film drama ini :D

Usai nonton film ini saya jadi berkaca pada keseharian saya, wah banyak sekali orang2 macam penduduk desa itu, dan itu juga jadi tayangan di televisi saya sehari2. dari sinetron, reality show, berita semua sama benang merahnya iri, dengki, permusuhan, adu domba, fitnah. Sama seperti film yang saya tonton ini.... ah ... sifat dasar manusia yang akan saling mendominasi dirinya sampai kapanpun. Miris ya?