Tampilkan postingan dengan label catatan layar tancap. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan layar tancap. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 April 2016

Kapur Ade menang Gold Award Viddsee Juree Indonesia 2016

Ini kejadian tanggal 5 Maret 2016 lalu.

Film Kapur Ade (Little Sister's Chalk), film animasi 2D terbaru Lanting kalau saya bilang adalah film yang paling lama menentukan akhir ceritanya, kenapa saya bilang begitu? Berulang kali si mas mengeluarkan banyak ide untuk menentukan akhir film ini, macem-macem alternatif endingnya, padahal pengerjaan film ini sudah lama kalo gak salah dari tahun 2015 awal. Film ini pernah diikutkan FFI 2015, hanya masuk dalam nominasi saja.

Lalu si Mas masih mengedarkan Kapur Ade di berbagai festival dalam dan luar negeri, hingga salah satunya diikutkan ke Viddsee Juree Award. Viddsee sendiri adalah sebuah multiplatform online yang mengumpulkan dan memilih film pendek serta cerita Asia terbaik untuk ditampilkan di www.viddsee.com. Platform ini diklaim memiliki basis audiens internasional yang luas, serta mempromosikan film pendek Asia terbaik ke seluruh jaringan film pendek, festival, dan film market. Lalu Viddsee Juree Awards adalah kompetisi untuk merayakan film pendek Asia dari berbagai genre; fiksi, dokumenter serta animasi. Indonesia mendapat kehormatan dan terpilih sebagai negara pertama yang untuk meluncurkan edisi perdana Viddsee Juree Awards, dimana pembuat film pendek Indonesia mendapatkan berkesempatan filmnya ditonton dan dipilih oleh panel juri internasional.

Nah iseng- iseng diikutkan dan akhirnya Kapur Ade masuk nominasi dalam kompetisi ini, ketemu lagi dengan beberapa film pendek lain, beberapa malah sudah sama-sama sering lihat filmnya wara wiri di kancah festival film juga hehehe. Tanggal 5 Maret 2016 itu tibalah pengumuman si Viddsee Juree Award edisi Indonesia ini. Acara awardingnya dilakukan di IFI Jakarta yang bertempat di jalan Thamrin.

Saya sempat menonton pemutaran film2 nominasinya, ada sekitar 10 film pendek dengan berbagai genre. Idenya banyak yang menarik dan nyeleneneh. Saya ketemu lagi dengan film Wachten Staad-nya Mas Fajar dan Digdaya Ing Bebaya (of The Dancing Leaves)-nya Mas BW Purbanegara.
Dalam kompetisi ini saya sih gak mikir kalo akan menang, karena filmnya keren2 semua. Feeling saya sih Digdaya Ing Bebaya bakal menang, dan emang bener! Film dokumenter karya Mas BW ini meraih juara ke dua. Pulang2 bawa kamera Black Magic.

Pas pengumuman juara pertama, makin kagetlah saya ternyata yang menang ialah film Kapur Ade!
Film Kapur Ade menang Gold Award Viddsee Juree Indonesia 2016.
Yak ampun mimpi apa dapet kamera Blackmagic tipe URSA EF!
Alhamdulillah! Sama seneng juga dapet trip ke Singapura (yang entah kapan) untuk berkunjung ke kantor Viddsee di Singapura (ples jalan-jalan juga).

pengumuman yang bikin kaget itu >.<



kamera yang masih belum dipakai sampe sekarang


Hehehe gak nyangka banget, film Kapur Ade diapresiasi oleh juri2 panel internasionalnya, ada 3 juri di kompetisi ini yaitu Masoud Soheili (pembuat film independen Iran yang sering menang festival), James Lee (pendiri Doghouse 73 dan salah satu pelopor pembuat film pendek independen di Malaysia di masa sekarang), dan Eiji Shimada (sutradara film pendek asal Jepang yang film pendeknya juga sering menang di beberapa festival internasional). Wahh.. diapresiasi oleh juri-juri yang berpengalaman juga dalam perfilman pendek. Seneng banget hehehe...

Kalau denger penjelasan mereka kenapa memilih pun juga sangat senang, beberapa pesan mereka dapatkan dari film sederhana ini. Hihihi kenapa ya, kalo denger komentar orang tentang film yang sudah dibuat itu rasanya senang-senang deg-degan. :D “Kekuatan utama Kapur Ade terletak pada kemampuan pembuatnya dalam menyampaikan narasi yang mampu menceritakan tentang wajah dan semangat Indonesia kepada penonton asing, dengan karakterisasi yang unik sekaligus imajinasi tinggi,” ini kata Masoud Soheili ketika mewakili ketiga juri saat menjelaskan alasan kemenangan film Kapur Ade.




Senin, 12 Desember 2011

Kejutan akhir tahun 2011 :D

10.12.2011

Gak terasa sudah 3 bulan bersama. Tiba2 aja udah 3 bulan ya? seperti sulap saja :D Pagi ini saya dan si Mas menjalani wiken seperti biasa, bangun, mengurus rumah, masak, nyuci, beres-beres yah seperti biasa saja.

Lalu berhubung ada teman jauh datang berkunjung ke Jakarta jadi kami ingin bertemu. Bermula dari tempat terdekat eh ternyata malah bergeser ke FX. Yah mungkin biar berkumpul semua dan bertemu orang2 di sana karena kebetulan ada Pict Fest 2011 di sana.

FX dikala wiken dan banyak pengunjung itu sangat tidak bersahabat ya parkirannya? Kira2 setengah jam saya ubek2 cari parkiran. Hari bergerak semakin sore dan er…. saya mendadak mulai bete dengan keriuhan yang tidak membuat saya nyaman di tanggal istimewa itu.

Pukul 6 sore kami masih di sana, padahal tepat jam 7 malam kami dapat undangan menghadiri malam penganugerahan Festival Film Indonesia 2011. Si mas dapet undangan untuk film pendek animasinya: Balloons. Antara semangat dan malas untuk menghadirinya, apalagi setelah tahu hujan mengguyur jakarta di malam minggu ini. Wah cakep banget, kebayang macetnya dari FX Sudirman sampe JiExpo Kemayoran…. dalam pikiran kami berdua wah lewat dari jam undangan nih sampenya….

Tak berharap banyak, kamipun bergegas berganti baju yang layak untuk jalan di atas red carpet FFI. Dan berangkat menuju Kemayoran. Hujan deras, terjebak macet sepanjang Sudirman. Kami tetap memutuskan datang, entah boleh masuk atau tidak. Yang bikin kami agak santai, syuting FFI ini baru akan di mulai jam 9 malam, seharusnya datang agak mepet jam 9 pun tak masalah. ;p Yah ini cuma pikiran bandel kami saja sih…. hehehe…

Dan jeng jreng tibalah kami di sana. Ternyata masih boleh masuk dan melongo melihat banyak artis2 yg selama ini hanya dilihat melalui layar kaca. Woi jaim woi! jangan udik! :)) hahahaha…..

Ah suasana yang saya rindukan, suasana festival film, saatnya berkenalan dengan sana sini memperluas link, serta bagi2 kartunama… saatnya temu kangen juga, bertemu dengan para penggiat film baik pendek maupun panjang se-indonesia (istilahnya agak berlebihan padahal ndak semua juga dateng sih :p) hehe…

Penonton sudah dipersilahkan masuk, dan duduk di tempat yang telah ditentukan. Acara pun dilaksanakan. Yah sama seperti acara on air televisi pada umumnya. Sedikit banyak saya sudah pernah mengalami akan seperti acaranya (sebelumnya saya juga menghadiri acara nominasinya).

Saya menikmati acara ini, berdebar2 ingin tahu siapa yang menang dari nominasi yang telah disebutkan, dibuat tercengang oleh jambul terowongan mina Syahrini, atau kata2 humor sindiran mbak Jeng Kelin. Juga terpesona melihat mbak2 cantik dengan dress red carpetnya yang indah. Sungguh melihat langsung Prisia Nasution dan Titi Sjuman bikin mangap rasanya :)) (haduh mulai dah udik saya keluar) hahahahaha….

Eniwei yang saya sayangkan FFI 2011 ini walau sudah banyak berubah (dari segi susunan kepanitiaan, juri dan penjurian) ternyata masih menganaktirikan Film Pendek. Penghargaan film pendeknya memang semakin banyak kategori. Namun karena dianggap minor jadi pengumuman Film Pendek, Dokumenter dan penghargaan khusus film pendek hanya diumumkan via off air. Iya kalo di televisi itu pas break iklan. jadi gak pernah ketahuan sama penonton televisi siapa saja pemenang kategori film pendek, atau bahkan mungkin mereka malah tidak tahu kalo di FFI itu ada kompetisi kategori film pendek dan dokumenter. Ironis ya? padahal film2 pendek dan dokumenter yang masuk ada banyak loh ada 99 film dan yang lolos seleksi penjurian ada 30 film.

Mendapat penghargaan atas karya yang telah kita buat itu sangat membahagiakan loh. Yah, sebuah perayaan prestasi. Tapi ya jangan setengah2 lah… Kalo mau FFI dihargai lagi dan berubah, seharusnya dari hal kecil macam off air dan on air ini juga harusnya berubah kan ya? Perubahan memang butuh waktu, semoga tahun depan film pendek tidak dianak tirikan. :)

Saat saya masih asyik bergulat dengan pemikiran saya tentang penganaktirian film pendek, tiba2 saya dan si mas dikejutkan dengan di sebutnya nama si mas untuk maju dan meraih piala citra untuk kategori penghargaan khusus dewan juri atas film pendek animasi dengan cerita anak yang inspiratif. Film Balloons si mas dapet piala FFI! Saya dan si mas kaget bukan kepalang! Ah senyum si mas lebaaarr sekali saat naik diatas panggung. Penghargaan khusus film pendek ini dibagikan pada 4 film dengan kategori berbeda-beda dan dari daerah yang berbeda-beda. Ada film dari Palu, ada yang dari Purbalingga, juga ada film hasil karya anak SMA dan film mas ku mewakili genre animasi.

ayo senyum yang lebaaarrr :D menang FFI nih!


Tapi sekali lagi…. nama si mas diumumkan pas acara off air dan bahkan tanpa speech sedikit pun! (3 org yang lainnya pun juga tidak diberi kesempatan speech) entah masalah durasi waktu (yang padahal pada saat off air/break yang masih memakan waktu lama untuk penayangan iklan) atau malah entah masalah yang lain.

Bubar acara, saatnya foto-foto dong! karena tanpa persiapan sedikit pun saya bahkan sampe lupa tidak mengabadikan si mas saat berada di panggung dengan piala itu. Jadi langsung deh nyari backdrop FFI yang biasanya ada di tepi red carpet dan foto-foto deh :))

Hahaha.. mas, senyummu itu loh lebar benerrr, sama lebarnya seperti saat kamu usai mengucapkan pinanganmu 3 bulan yang lalu. :D

Ah mas, kamu bikin aku bangga! :D hehe ayo kita bikin film animasi lagi biar dapet penghargaan (dan duit juga)! :)) hahaha

Kamis, 14 Oktober 2010

Bikin Festival Film itu gak gampang


Bikin Festival Film itu ndak gampang, dan alasan kenapa harus ada Festival Film itu juga bukan sebuah pertanyaan yang mudah di jawab.

Melalui situsnya Jiffest (Jakarta International Film Festival) mereka menyatakan jika Jiffest ke 12 yang direncanakan terselenggara 27 November-3 Desember terancam gagal dan bubar gara2 masalah pendanaan. Masalah dana selalu menjadi masalah pelik di semua festival film. Dari yang sederhana yang bersifat kedaerahan atau yang skala internasional seperti Jiffest ini.

Loh memangnya jiffest gak bisa cari sponsor apa? Beberapa orang protes dengan adanya gerakan kampanye #SaveJiffest di berbagai media social. Dan merasa gerakan #SaveJiffest ini gak tepat, sementara ada banyak yang harusnya lebih layak di bantu di negara ini daripada pemerintah harus menuruti membantu Jiffest.

Jadi gini, selama ini Jiffest bisa berjalan dengan baik karena mereka mempunyai donatur dan sponsor dari luar negeri. Tapi setelah 10 tahun kontrak sponsor pun habis. Dan walau mencari dana dari sana-sini pun tetap belum bisa menutupi dana operasional festival. Jiffest setiap tahunnya minta dukungan dari pemerintah, tapi ya tahu sendiri lah bagaimana birokrasi dan banyak kepentingan yang ada di sana. Akhirnya masalah prioritas lah yang menjawab. Mungkin ini saatnya buat Jiffest untuk mencari dana lagi ke tempat lain atau bahkan menggalang dana dari penonton yang haus akan festival film alternatif.

Kenapa jiffest harus ada? Jiffest ialah salah satu festival film internasional terbesar di Asia Tenggara. Sudah mendatangkan banyak film alternatif dari berbagai negara yang film2 itu belum tentu bisa masuk ke jalur bioskop di Indonesia. Di jiffest ada workshop, master class, dan diskusi untuk mengapresiasi film yang memperkaya pengetahuan film di Indonesia. Dan biasanya pengisi workshopnya pun datang dari beberapa ahli film dari luar negeri dan negeri sendiri. Di festival ini pula film2 pendek anak negeri pun juga diputar dan diapresiasi, tidak hanya film2 layar lebar yang telah punya nama.

Mungkin untuk penjelasan lebih lanjut bisa dibaca di situs mereka.

Kalau saya melihat kasus ini tidak heran, festival film di manapun itu cuma kerja sosial saja, mereka ndak pernah mencari keuntungan, mereka ada untuk memberikan alternatif hiburan dan wawasan di masyarakat, mereka juga memperkaya penikmat dengan keanekaragaman gagasan dan budaya. Yah biar para penikmat itu pinter, gak cuma katak dalam tempurung, tapi bisa lebih terbuka dalam pemikiran. Dan bisa menginspirasi para pembuat film di Indonesia biar film di Indonesia lebih beragam dalam ide dan cerita (gak melulu cuma pocong dan seputar selangkangan mulu).

Bikin festival gak gampang, harus cari film kemana pun, jika ini festival internasional nyari filmnya pun juga sampe ke belahan dunia lain. Semua saling bertukar jejaring, nyari film di berbagai Negara. Lalu film2 itu dikurasi dan dimasukan dalam program, dalam sesi ini dipilih kira2 mana film yang cocok dengan kondisi di sini (Indonesia). Minjem film itu juga gak gratis, harus mengurus ijinnya dan pertanggung jawaban pada para pembuat filmnya.

Lalu mencari tempat pemutaran. Kesannya beberapa festival film itu terlalu eksklusif, kurang membumi. Ya karena tempat2 yang eksklusif itu yang bisa dengan terbuka menerima adanya pemutaran film yang layak. Seperti di bioskop Blitzmegaplex, atau beberapa pusat kebudayaan di Jakarta atau gedung kesenian. Sekali lagi itu juga gak gratis. Dan belum lagi jika pemutaran dilaksanakan selama beberapa hari.

Bukan cuma tempat pemutaran, ada pula tempat untuk diskusi, workshop, master class dan lain sebagainya. Kalau ditotal2 wajar lah jika bujet membengkak. Butuh volunteer yang banyak untuk mengurus semuanya agar berjalan dengan baik. Dan pada saat pelaksanaan gak jarang ada banyak kekurangan. (seperti yang pernah saya keluhkan tahun lalu).

Memangnya gak bisa tertutupi dari tiket nonton Jiffest? Tiket Jiffest itu berapa sih? 15.000 (kalo ndak salah, saya lupa soalnya) bahkan banyak pemutaran film yang gratis. Dengan pemasukan dari tiket segitu bisa menutupi biaya operasional darimana?

Lho tapi kan ini festival cuma di Jakarta doang? Dan sekali lagi yang menikmati cuma orang Jakarta aja! Ada kok Jiffest traveling yang memutarkan film2 dari berbagai Negara dan negeri sendiri ke kota2 lain selain Jakarta. Ke padang, medan, malang, jogja, solo, Makassar, Surabaya, dll

Setelah saya mengingat lagi semuanya dan saya sadar bahwa menyediakan hiburan alternatif yang bermutu itu ndak gampang, saya rasa #SaveJiffest ini tidak berlebihan kok. Ada banyak cara untuk membantu dan membangun Negara kan? Dan ada banyak cara untuk membangun dan membantu perfilman negeri ini :)

Untuk yang peduli dan ingin festival ini tetep ada bisa menyumbang ke:

Yayasan Masyarakat Mandiri Film Indonesia

No. 7420030091

BCA Percetakan Negara (untuk pembayaran dalam mata uang Rupiah)

Bukti pembayaran dapat kirimkan melalui alamat email info@jiffest.org atau jiffest@gmail.com, atau fax ke 021-31925360.

Sebagai catatan, tahun ini JIFFest membutuhkan pendanaan sekitar 2 miliar rupiah. Sampai saat ini, JIFFest masih memerlukan 1.5 miliar lagi untuk benar-benar bisa terselenggara.

Jika sampai pada tanggal 1 November belum terkumpul 1 miliar rupiah, maka dengan sangat menyesal penyelenggaraan JIFFest tahun ini ditunda sampai waktu yang belum dapat ditentukan.

Lagi2 saya curhat deh di sini, oh iya tulisan ini saya buat karena saya penikmat film2 Jiffest dan festival lainnya. Saya buat karena saya peduli dengan adanya festival film. Saya bukan panitia dan maaf jika saya terlihat sok tahu tentang ini, tapi saya tahu kinerja membuat festival karena saya pernah membuat festival film di daerah dan itu sulitnya bukan main (bahkan lebih sulit dari di Jakarta). Yah sedikit-banyak saya bisa curhat tentang kesulitannya :D hehe

Semoga Jiffest dan Festival film lainnya tetap bisa terselenggara ya... Amien...

Minggu, 03 Oktober 2010

Royston Tan show lah...

ahem... saya ketemu orgnya langsung pas pemutaran kemarin, tinggi besar, putih, ganteng sayang ndak doyan cewe Tears

Sabtu, 25 September 2010 saya menghadiri pemutaran Q Film Festival di CCF Salemba.. Sesi kali ini ialah Royston Show Lah... memutarkan 4 film pendek milik Royston Tan, sutradara asal Singapura.

Kalo dijelajahi lewat gugel banyaklah karya2 dia yang sudah mendunia bahkan menghebohkan! Ambillah contoh film pendeknya berjudul ‘15' yang menggambarkan daerah kumuh dan mafia di Singapura. Hal yang tabu untuk Negara Singapura dan akhirnya malah membuat film2 Royston dicekal dinegaranya sendiri karena alasan mengancam keamanan negeri. Bayang pun! Saya makin penasaran seperti apa filmnya dia yang ‘15' itu :D *tinggal dicari aja sih di gugel mudah2an dapet*


Sayangnya.. dalam pemutaran kemarin '15' tidak ada dalam listnya, tak membuat saya kecewa karena 4 film yang dibawanya bisa mengaduk2 perasaan saya dan bisa bikin mewek karena ingat ibu atau bapak dan bahkan bisa ngakak sengakak-ngakaknya karena film komedi satirnya yang nyelekit namun menghibur.


Saya beri sedikit ulasan dan komentar saya akan 4 filmnya ya :


Anniversary | 16 menit |2009|bahasa inggris

Ini film pendek tentang kesetiaan gay, lembut, indah dan manis menurut saya.. Saya sebagai cewe sih amat sangat dimanjakan dengan pemeran prianya yang ganteng2 semua.. begitu juga dengan pria2 yang duduk disebelah saya di dalam ruang sinema CCF hehehe....
Mungkin sebagian orang akan risih menonton dua pasang pria sedang memadu kasih tapi kalo untuk saya sih itu tidak terlalu mengganggu. (ya tinggal bayangin aja yang salah satu itu cewe :p masalah persepsi beres kan?)


Ceritanya sih tentang relationship antara 2 orang pria yang bentar lagi mau merayakan anniversary-nya. Kampanye tentang AIDS di sini juga kental sekali, malah saya pikir ini ialah film pendek kampanye tentang pemeriksaan dini AIDS.


Little Note|15 menit|2009
Ini film yang bikin saya mewek! crying
Menceritakan tentang hubungan ibu dan anak dari kecil hingga dia dewasa dan akhirnya harus pergi berpisah dengan sang ibu. Sebagai anak yatim, sang anak selalu diolok2 oleh teman2nya di sekolah namun sang ibu selalu mendukung dan meyakinkan pada anak untuk "Tidak takut".


Sons|10 menit|2000|bahasa china teks inggris
Hampir mirip dengan cerita Little Note, bedanya ini bapak dan anak dan cara penceritaan dari sisi sang Bapak. Lagu mandarin yang mengiringi film ini bikin ngantuk dan membosankan. Dan seperti itulah sang Bapak sebegitu membosankannya untuk si anak. Maka Bapaknya tak pernah dianggap, masakannya tak pernah dimakannya dan pulang ke rumah pun jarang. Hingga yang dirasakan ialah kesepian yang amat sangat untuk si bapak.Penuturan ceritanya seperti berpuisi (dlm bahasa mandarin) di bacakan oleh sang bapak. Kalo benar2 menyimak film ini (dalam kantuk tentunya) sungguh kata2nya indah dan mendalam sekali... 


Cut|16 menit|2004

Ini dia film yang bikin aya ngakk guling2, film ini mengkritisi masalah sensorship di Singapura. Semuanya diceritakan jelas di film ini dengan komedi dan tari (operet). Satu yang paling saya tangkap: Lembaga sensor Singapura menyensor film2 yang masuk untuk melindungi masyarakat singapura tapi siapakah yang melindungi Lembaga Sensor Singapura itu sendiri? Hahaha sumpah gw ngakak pas dengar statement itu.


Yang mengganggu dari film ini, tanpa teks Indonesia dan pemain mengucapkan bahasa inggris singapur dengan cepat, saya jadi harus tanya sana sini dulu biar ngerti :p hehe..

Oh iya film ini juga mendapat reaksi dan kecaman keran sari pemerintah Singapura, karena amat sangat mengkritik lembaga sensor mereka.


Usai nonton film2 Royston saya memuji dia untuk seluruh scoring lagu di semua filmnya, benar2 menyatu dengan film dan mampu membangkitkan emosi. Dan alur ceritanya pun pas tidak terlalu berlebihan dan banyak momen2 yang bisa bikin penonton langsung bereaksi melihatnya. Satu lagi catatan saya untuk film2 Royston, terutama Little Note dan Sons fotografinya bagus sekali.. memanjakan mata, tanpa harus saya kehilangan jalan cerita untuk mengaguminya.


Kok sepertinya saya terlalu memujinya ya? Heheh enggak juga kok, satu yang mengganggu saya ialah film2nya bersih, gambar dengan pencahayaan baik, kesannya seperti drama2 korea atau jepang yang sering saya tonton. Tak ada cacat sedikit pun. Menurutku sih kelebihannya yang berlebihan itulah kekurangannya...

Sekian laporan saya dari QFilm Festival, saya bersyukur bisa nonton sebelum terjadi demo dari FPI. heran banget padahal festival ini sudah diselenggarakan bertahun2 dan FPI ndak pernah bermasalah dg ini tapi tahun ini QFest mendadak jadi masalah. Bingung sama FPI semua2 dipermasalahkan? Curiga ini sengaja diangkat karena pengalihan isu deh...

Tapi dampak dari demo kemarin itu cukup besar buat penyelenggaraan QFest sad jadwal jadi kacau balau, sudah tidak sesuai lagi dengan jadwal yang dipampang di web mereka. Padahal banyak list film bagus yang saya nantikan pemutarannya. Juga dampak lainnya mundurnya The Japan Foundation dalam penyelenggaraan, praktis jadwal di Japan Foundation batal semua dan pemutaran cuma bisa dilakukan di Goethe House, CCF, Erasmus Huis dan Kineforum saja.

Gak mau berbanyak kata atas kejadian kemarin. Toh festival ini sudah selesai dan tetap berjalan walau ada perubahan di sana-sini. Tapi saya salut sama panitianya! RockBikin festival itu tidak mudah, dan saya pernah merasakannya. Kuharap Q Film Fest tetap bisa diadakan tahun depan.

* gambar diambil dari hasil googling
**artikel ini juga diposting di bicarafilm.com

Minggu, 13 Desember 2009

Grammar Suroboyo di Hellofest 6

Sholikin dengan piagam kemenangannya, ih ini Renzzy ok ikut2 mejeng sih?

Akhirnya menang lagi!
tepuktangan hahaha itu komentar saya tentang kemenangan Sholikin/Si Ikin/Studio Gathotkaca dengan 'Grammar'nya di Hellofest 6 tahun 2009 ini. Kenapa saya bilang menang lagi? saya ndak heran dengan kemenangannya. sengihnampakgigi Ceritanya tentang grammar suroboyo dan ditambahi cerita tentang Lontong Balap, salah satu makanan khas Surabaya *yang juga kesukaan saya* dikemas dalam animasi 2d yang ala kadarnya karena gambarnya jauh dari bagus sukses bikin ngakak2 1 studio pemutaran Hellofest 6 di Balai Kartini Gatot Subroto.

Lembar vote Hellofest 6

Numpang mejeng yaa...

Memang bukan pemenang favorit 1, cuma dapat favorit ke 2 tapi itu sudah membanggakan buat saya teman masa kuliahnya dan bikin si ikin senang banget karena dapet hadiah study tour ke Singapura! Cah ndeso asal Bojonegoro, yang kuliah desain di ITS Suroboyo, bolak-balik ke jakarta menghadiri festival film lantaran filmnya bolak-balik sering diputar dan diapresiasi, ehh sekarang dapat kesempatan untuk ke luar negeri, ke Singapura! Waw!!! hebat kamu Kin!!! Itu semua berkat film Grammar vol. 3 yang diikutsertakannya ke Hellofest 6. menari

Sholikin memang paling suka banget bikin animasi 2d dengan flash, pertama kali bakat menonjolnya saat dia bikin animasi sederhana macam Xiao-xiao (animasi dengan karakter manusia lidi) di kelas animasinya saat kuliah dulu. Lalu berlanjut membuat film2 dari Gathotkaca vol. 1-3, Pringgondani, hingga Grammar vol. 1-3,5. Dulu bersama Rudi dan Astoto , Sholikin bergabung dalam RASis Film, menelurkan film2 Gathotkaca 1-3. RASis bubar dan Sholikin jalan sendiri dengan Gathotkaca Studio-nya bikin simple animasi yang lain seperti seri Grammar.

Mungkin nonton Grammar bakal bikin kita semua ngakak, karena imbuhan khas suroboyonya, pisuhannya yang selalu khas dan bikin ngakak. Film ini bukan cuma melestarikan budaya misuh tapi juga berisi macam2 kritikan Sholikin akan sekitarnya, isue yang saat ini marak di surabaya maupun indonesia. Coba deh ditonton saja film2nya. Sholikin gak cuma mengocok perut penonton tapi juga berusaha memasukkan pesan2 budaya. gelakguling

Jadi kurasa kemenangan Sholikin kali ini layak dia dapatkan! Teruslah menghibur dengan simple animasimu ya kin! Salut!

Kurnia, Gunawan, Iyud, Sholikin, Renzzy, dan saya

Hellofest 6 kemarin saya tak hanya berjumpa dengan Sholikin tapi juga temen2 kuliah lainnya *yang kerja dijakarta* wah jadi seperti reuni! bertemu dengan Iyud, Boy, Ega, Gunawan, ketemu dengan Renzzy *sesama pejuang di INFIS* dan Kurnia *animator/komikus dari jogja*.
Masing2 telah memiliki kehidupan masing2 ada yang berprestasi di hobinya seperti Sholikin, berprestasi di tempat kerjanya masing2. Salut dan tetap semangat untuk teman2 semua yaaaa!!!sembah

Oh iya saya lupa menyantumkan film Grammar 3: Mantab Jaya itu, ini selamat misuh ngakak yaaa..gelakguling



Sabtu, 12 Desember 2009

Okuribito (Departures)

Adalah Daigo Kobayasi, seorang pemain cello yang tergabung dalam grup orkestra di Tokyo jepang. Dia sangan mencintai cello dan suka dengan pekerjaannya. Mendadak harus menjadi pengangguran, karena orkestranya terpaksa dibubarkan oleh pemiliknya, akibat semakin sedikitnya penonton orkestra di jepang. Lantas harus mencari kerja kemana dan seperti apakah Daigo untuk menghidupi keluarga kecilnya? apakah masih dengan bakat cello-nya? fikir

Daigo pun memutuskan pulang kampung ke tanah kelahirannya di Yamagata. Mika, sang istri tidak keberatan, toh pekerjaanya sebagai web designer bisa dikerjakan dengan mudah di mana pun. akhirnya mereka memulai hidup baru mereka di rumah peninggalan ibu Daigo. Rumah yang kecil dan unik, berisi piringan hitam koleksi bapak Daigo yang masih di simpan Ibu Daigo. Ibu Daigo telah tiada, sedangkan ayah Daigo pergi meniggalkannya pada saat Daigo masih kecil. Daigo masih ingat beberapa kenangan manis tentang ayahnya namun dia tidak ingat wajah ayahnya.

Mencari pekerjaan di sebuah kota kecil tidaklah mudah, akhirnya Daigo tertarik sebuah iklan koran. Perusahaan yang berhubungan dengan 'departures' mencari pegawai. Selintas perusahaan ini seperti agen wisata perjalanan, dan segeralah Daigo melamar kerja di sana. Dan ternyata diluar dugaan pekerjan yang akan dilakoninya ialah menjadi asisten seseorang yang menyiapkan jenazah sebelum dimasukkan dalam peti untuk dikremasi. *ya jika di indonesia ialah tukang mandikan mayat dan mengkafani jenazah* gigil

Syok, kaget, takut dan bingung adalah ekspresi Daigo pertama. Bayangkan tugas pertamanya dia harus mendampingi sang bos untuk 'menyiapkan' mayat seorang ibu2 tanpa sanak kalurga yang mati di rumah kontrakannya dan telah membusuk selama 2 minggu. Bayangkan wujud jenazahnya, baunya, kondisinya, belatungnya, yieeekkkkk...... muntah2lah Daigo pada saat ditugasi mengangkat mayat itu..busuk

Bosnya mengganjarnya dengan bayaran mahal 500.000 yen perbulannya. Daigo bimbang antara menjalani pekerjaan "antik"nya ini atau dia mencari pekerjaan lain, namun bayaran yang setimpal itu dia butuhkan untuk menghidupi keluarga. Dijalanilah pekerjaan itu dan dia merahasiakan pekerjaannya dari istrinya.

Daigo bekerja berdasarkan panggilan, jam berapapun itu dan di mana pun itu. kadang subuh2, tengah malam dia harus bekerja, harus pergi ke pelosok desa untuk memenuhi panggilan kematian. Dan Daigo menjumpai banyak klien dan keluarga klien yang bermacam2. Dari sebuah upacara kematian si klien, terbuka seperti apa keluarga mereka, hubungan dengan klien yang meninggal, harmoniskah, di bencikah, ada aibkah, semuanya mau tidak mau harus diketahui oleh Daigo dan sang bos. tapi dengan kondisi seperti apapun jenazah mereka tetap harus menyiapkannya sebaik mungkin, memandikannya, memakaikan kimono kematian atau baju apapun yang akan dikenakan sang klien sebelum dikremasi. Mendandaninya, make up, mencukur kumis dan jenggot jenazah. Semua itu ada upacaranya.around

Saya suka sekali dengan film ini, selain menjadi tahu satu lagi budaya dari jepang yang unik, juga menyadarkan saya jadi tukang mandikan mayat itu juga sebuah pekerjaan halal dan mulia.
Di film ini diceritakan tentang penolakan keluarga dan lingkungan masyarakat dengan profesi ini, mereka menganggap profesi ini gak normal. Banyak orang yang memandang rendah pekerjaan ini, orang2 berpikir jika yang mengerjakan pekerjaan ini terpaksa karena tidak ada pekerjaan lain.adus

Profesi ini tidak mudah, bukan hal sepele, dan sedikit orang yang tertarik menekuni, padahal kematian pasti datang setiap harinya dan setiap detiknya. Lalu setelah meninggal akan diapakan jenazah? langsung dikubur, dikremasi, dilarung? gak begitu juga kan? Pasti ada upacara dan prosesinya berdasar adat, agama, kepercayaan. Siapa yang akan kita kontak jika terdapat musibah seperti itu? Sementara hati berduka, tiba2 harus mengurusi kematian seseorang yang kita cinta. Untuk inilah ada profesi pengurus kematian, tukang mandikan mayat, tukang kubur mayat, tukang kremasi. Profesi yang mulia dan tinggi derajatnya diantara profesi yang lain.angel

Tonton deh film ini, coba dicari dvdnya, dibeberapa tempat sudah ada yang jual, saya kebetulan nonton Okuribito di Jiffest 2009 ini. Mungkin bisa juga dicari link donlotnya kalo mau. Departures (おくりびと Okuribito) film jepang produksi tahun 2008, sutradara Yōjirō Takita. Memenangkan Academy Award for Best Foreign Language Film di Oscars 2009. Dan meraup pemasukan $61,010,217 di Japan pada bulan April, 2009. Film ini bikin saya mewek di beberapa scene yang memang mengharukan dan bikin saya tertawa juga di beberapa scene karena konyol dan lucu. Durasinya memang panjang 131 menit, 2 jam lebih! tapi dijamin tidak membosankan apalagi jika dihibur dengan alunan cello sebagai scroring lagu dalam beberapa adegannya. Selamat nonton ya. kenyit

Selasa, 08 Desember 2009

JIFFEST 2009 [dengan segala kekurangannya]


Jiffest berumur 11 tahun, dipenghujung tahun ini. Acara yang berisi pemutaran film2 internasional bergengsi berlangsung dari tanggal 4-12 Desember 2009. Dulu tiap tahunnya jiffest di putar di berbagai tempat dan pusat kebudayaan di Jakarta. Tapi tahun ini hanya dilangsungkan di satu venue saja yaitu Blitzmegaplex Grand Indonesia. Sangat di sayangkan sih, jadi tidak bisa pindah venue, tapi menjadi lebih efisien untuk koordinasi para panitia dan menguntungkan untuk para penontonnya gak usah pindah2 tempat. Jadi dari siang sampai malam bisa nonton film2 jiffest sampai mabok!

Sang Pemimpi, masih novel dari Andrea Hirata, diangkat menjadi film dan menjadi film pembuka Jiffest tahun ini. Sayangnya hanya invitation only, tiket khusus untuk para orang penting saja. Sedangkan diputer untuk umum serentak di Indonesia pada tanggal 17 Desember 2009.

Saya mau berbagi tips untuk nonton Jiffest tahun ini, mungkin bukan cuma tips sih soalnya akan saya sisipkan dengan kritikan hihihih :D

Tiketing
Dikarenakan metode tiketing yang rada antik, ada konsep tiketing early bird, member only dan umum, kita harus rajin2 ngecek di web jiffest.org tentang tata cara pemesanan tiket film. Jadi pertama2 tiket di buka untuk para member Blitzcard dari tanggal 24-27 November, harga tiket dapet diskon 25 %. Lalu baru di buka untuk umum namun early bird tanggal 28 November-4 Desember, harga diskon masih tetap sama. Dan dijual juga untuk hari H dari tanggal 5-11 Desember, namun haraga tiket sudah tidak diskon lagi.

Coba deh bayangin jika semua member Blitzcard memborong semua tiket, apa jadinya yang untung2an beli di hari H minimal 15 menit sebelum pemutaran dimulai? Belum lagi antrian yang mengular panjangnya. Karena antrian dicampur dengan antrian film2 Blitz lainnya. Disinilah eksklusifitas Blitz bermain, dan saya kurang setuju dengan konsep tiketing macam ini. Belum lagi pembagian tiket untuk Free Movie (film2 yang gratis) waw.. itu ngambil tiketnya seperti rayahan Grebek 1 Suro di Solo maupun Jogja. Panitia membagikan tiket yang tidak bernomor kursi itu, para peserta langsung ambil dan itu terjadi 1 jam sebelum film di mulai.

Sebentar? tidak bernomor kursi? iya betul, dan apa yang terjadi? Satu jam sebelum studio film dibuka para penonton sudah antri mengular panjang dengan manis di depan pintu. Yak betul posisi antri menentukan prestasi pemilihan kursi pada saat menonton. Jadi bagi yang datangnya telat... selamat yah, anda bisa dipastikan akan dapat kursi minimal 3 deret dari depan layar! Sangat baik untuk mata anda!

Teknis Pemutaran
Namanya juga Jiffest (Jakarta International Film Festival) dari kepanjangannya saja sudah terlihat kalo ini festival film berskala internasional, bukan cuma filmnya yang berisi film2 internasional dan lokal, tapi rasa, aura dan segala halnya harus berstandar internasional dong...
  1. Gedung, memilih Blitzmegaplex GI. Jelas sudah internasional.
  2. Pelayanan? Biasa saja standar pelayanan bioskop umumnya di jakarta.
  3. Teknis pemutaran? Amat sangat parah dan jauhhh dari festival film internasional.
Jika dibandingkan dengan festival film LOKAL dan KEDAERAHAN macam Festival Film Purbalingga, Surabaya 13 Film Festival, maupun Festival Film Pendek Konfiden. Masih sangat jauh sekali! Okey apa uneg2 saya untuk masalah teknis ini? banyak! Film terputar tanpa subtitle inggris (padahal film yang saya tonton film Swiss), film terputar ulang 2 kali dan panitia tidak sadar sampai film tersebut berputar sekitar 3 menit, sound hilang dan giliran sound muncul malah lagu dugem yang bukan bagian dari film, banyak "iklan" (merek DVD player muncul di layar, macam Sony, Akira, dll).

Lantas apa mereka selayaknya panitia minta maaf akan kesalahan2 yang terjadi itu? Sama sekali tidak. Beberapa penonton harus turun dari kursi, komplen ke panitia langsung, pada saat terjadi kesalahan teknis tersebut.

Saya terus terang kecewa banget dengan Jiffest tahun ini, apa para teknisi pemutaran tidak ditatar dulu ya, bagaimana menyuguhkan sebuah pemutaran yang baik? Lalu apa para penonton bisa menikmati dengan nyaman? Hahaha... saat pemutaran sesi Swiss Shorts banyak yang memilih keluar dari studio sebelum pemutaran berakhir.
Apa ini cuma terjadi pada pemutaran satu sesi film saja? Tidak setelah saya mengikuti sesi berikutnya tetap saja kesalahan kembali diulangi lagi. *tepok jidad*

Ini mungkin cuma keluh kesah sorang penonton Jiffest, mungkin saya yang terlalu perfeksionis, tapi wajar kan jika saya pengin yang terbaik? Semoga masukan ini bisa jadi cambuk semangat untuk Jiffest tahun depan agar jadi lebih baik. Apakah saya cuma bisa ngomel2 disini? tidak saya juga sudah komplen kok ke panitianya kebetulan saya kenal salah seorang dari mereka dan saya langsung mengungkapkan apa yang saya tulis di atas.

Saya sengaja menuliskannya di sini biar yang belum nonton tahu kondisinya, tahu bagaimana kalo mau nonton jiffest tahun ini, dan tidak kaget atau bahkan kecewa berlebih, karena keadaanya memang seperti itu :D hehehehe....

Jumat, 27 November 2009

Anak-anak Lumpur, Film Fiksi Terbaik di FFPK 2009


Kemarin selama 4 hari berturut2 menghadiri pemutaran FFPK 2009. Mulai dari pembukaan sampai penutupan dan awarding. Nah apa oleh2 saya dari malam penganugerahan itu? Baiklah... sebelumnya ada 10 film yang masuk kompetisi. Nah ke-10 film itu di putar dan dinilai olah para penonton yang hadir dengan cara voting dan dinilai juga oleh para dewan juri. Juri FFPK tahun ini ialah Arief Ashshiddiq (Editor), Eric Santosa (Dosen Psikologi Budaya), dan Wendi Putranto (Editor majalah Rooling Stones). ketiga juri ini sepakat kalau pemenangnya ialah Film Anak-anak Lumpur, yang disutradarai Danial Rifki... wahhhh selamat!

Dan untuk penerima penghargaan Konfiden (berdasar hasil voting), Anak-anak Lumpur juga menang dalam perhitungan suara voting. Selamat!!!!!!
Saya tahu film ini dari penulis skenarionya Pidi (Perdana Kartawiyudha), bolak-balik dia sibuk jumpalitan untuk mengulik skenario film TA dia ini. Ubah inilah ubah itu lah...hihihi saya sekilas sudah baca ide cerita film ini. Kalo premis ceritanya itu bla..bla..bla...

Dan tibalah saya nonton film itu pertama kali di pemutaran pada perayaan ultah Serunya Scriptwriting Playgroup. Saya tercekat *halah bahasanya* feelnya dapet banget! Ah bilang aja kalo saya mau memuji film teman saya.... hehehehe.. bukan bukan seperti itu, lupakan kalo pembuatnya saya kenal, lupakan kalo saya pernah tahu premis ceritanya. Saya benar2 menikmati film ini.

Bagaimana sebuah bencana Lumpur Lapindo yang melanda Sidorajo, dibuat tetap dramatis, mengharukan, memiriskan tapi tidak terkesan menye2 atau pun cengeng. Itulah nilai lebih film ini. Fakta yang ada di film ini, benar2 sudah di riset oleh pembuatnya*untuk riset menghabiskan berbulan*. Dari kondisi pengungsi yang rumahnya sudah kerendam lumpur, gimana penanganan pemerintah yang membuat mereka terkatung2, penyakit yang melanda seluruh pengungsi, akses yang putus dan sulit, fenomena wisata bencana yang mendadak ngetrend pada saat bencana ini mencuat di media. Iyah semua hal yang muncul karena efek bencana ini tidak diceritakan secara gamblang sekali karena ini bukan liputan berita di tivi. Tapi dikemas sedemikian rupa pada ceritanya sehingga mampu memperkuat drama dari cerita ini. Itulah yang saya suka..

Cerita ini mengisahkan tentang seorang anak pengungsi bersama para sahabatnya bagaimana mereka mempertahankan "harta" yang masih mereka miliki.Entah itu rumah mereka, harta benda mereka, orang tua mereka, persahabatan, hingga rasa cinta *halah*. Agak tidak terlalu kelihatan sih tentang rasa cinta itu. Penulisnya berkata bahwa sang tokoh utama itu memiliki rasa pada sahabatnya (wulan) namun seperti yang terlihat ada kisah cinta segitiga khas anak2 diantara mereka. Tapi kok saya ndak merasakan feel itu ya? Saya malah hanya melihat mereka itu cuma anak2 yang bersahabat dan doyan main ditengah kesedihan akan musibah. Ini menurut saya sih...

Saya juga suka opening cerita, dengan muatan lokal tentunya full boso suroboyoan yang bikin saya selalu ketawa ngakak. Dan itu menghanyutkan saya sampe akhir film. *ah film ini sukses bikin saya kangen suroboyo*

Satu lagi efek saya tercekat, speechless pas nonton ini ialah saat ada rapalan doa diawal dan akhir film.. iya doa selamat dunia akhirat yang umunya selalu mengalun di mushola2 atau mesjid2 di desa di daerah jawa timur. Scoring suara ini bikin makin menambah khidmat filmnya dan membangun emosi dalam film ini, sedih, miris, marah, kecewa, dan pasrah.
Saya mungkin tidak bercerita detil tentang filmnya. kalo saya ceritakan detil nanti spoiler banget hehehe.. mending nonton langsung saja film pendek ini. Film ini juga akan diputar di jiffest tanggal 6 desember jam 7 malam di Blitzmegaplex Grand Indonesia, masuk dalam Short's Film Indonesia.

Selasa, 17 November 2009

Festival Film Pendek Konfiden 2009



Tahun ini kembali FFPK berduka, setelah tahun lalu film yang lolos seleksi Festival Film Pendek Konfiden hanya 18 film tahun ini semakin menipis. Hanya 10 film saja dari 121 film masuk! Miris, dan sedih itulah yang dirasakan Yayasan Konfiden sebagai pembuat festival ini. Kualitas yang menurun, dan semakin jarangnya hal baru, juga kualitas film pendeknya. Juga yang lebih berduka lagi ialah tidak adanya Film Dokumenter yang lolos tahun ini dalam 10 nominasi film tersebut.

Namun Konfiden FFPK tetap harus terlaksana dan besok tanggal 19-22 November 2009 FFPK dilaksanakan di Galeri Cipta 3 dan Kineforum Taman Ismail Marzuki.


Program dalam FFPK ini ialah ada 3 buah program kompetisi, 3 program khusus nonkompetisi (program yang ini ialah beberapa film yang bagus, namun tidak lolos seleksi, namun layak tayang), 1 program film pendek prancis, 1 program pembuka dan 1 forum film pendek.

Jadwal acara ialah:
19 november:
pembukaan FFPK 2009

20-21 november:
pemutaran program kompetisi & khusus

22 november:
forum dan penutupan FFPK 2009

ini hanya jadwal singkatnya, untuk jadwal lebih lengkapnya bisa ditengok di sini. dan nonton FFPK ini GRATIS!


Berikut ialah lampiran Program kompetisi Festival Film Pendek Konfiden 2009 (diambil dari situsnya Konfiden.org), beserta sinopsis 10 film yang masuk dalam kompetisi. Yang mana film favorit Anda? ayuk kita tonton dan dukung mereka dengan memberi poling film favorit. Penilaian film kompetisi ini selain menggunakan penilaian dari dewan juri, juga ada penilaian dari penonton menggunakan poling penonton yang menghadiri festival ini.



Program Kompetisi

Program Kompetisi 1:

Sejarah

Total Durasi: 65.00
Klasifikasi: 15+
Diputar:
1.Jumat, 20 November 2009 pk. 19.30
2.Sabtu, 21 November 2009 pk. 13.30

Fronteira

fronteira_tn
Emil Heradi | FFTV-IKJ | Jakarta
Fiksi | 2008 | 26.00

Seorang tentara Timor Leste dan tentara Indonesia terjebak di ladang ranjau. Percakapan panjang terjadi...

Sabotase

sabotase_tn
Hadrah Daeng Ratu | FFTV-IKJ | Jakarta
Fiksi | 2009 | 15.00

Penggusuran dan penempatan lahan tidak resmi memicu terjadinya konflik antara pemilik lahan dengan warga. Hal ini memicu tindak sabotase berupa penghancuran dan pengusiran pada warga setempat.

Tan Malaka

tan_malaka_tn
Erik Wirawan | FFTV-IKJ | Jakarta
Fiksi | 2008 | 24.00

Tan Malaka adalah seorang aktivis pejuang nasionalis Indonesia yang sangat kontroversial. Baik di mata penjajah Belanda maupun di mata pemerintah Indonesia pada masa itu (setelah 1945).

Kompetisi 2:

Waktu

Total Durasi: 62.30
Klasifikasi: 15+
Diputar:
1.Jumat, 20 November 2009 pk. 16.30
2.Sabtu, 21 November 2009 pk. 15.00

Sampai Besok

sampai_besok_tn
Lucky Kuswandi, Naya | fridayni8htfilms | Jakarta
Fiksi | 2009 | 24.00

Sepasang kekasih muda menghabiskan hari terakhir mereka bersama di dalam rumah, menjalankan rutinitas mereka seperti biasanya dengan harapan agar hari esok tidak akan tiba.

Nemesis

nemesis_tn
William Chandra | RGB Pictures | Jakarta
Fiksi | 2009 | 14.10

Sebuah ketidakadilan, di mana hukum berat sebelah. Sehingga seorang bapak menuntut keadilan dengan caranya sendiri terhadap anak seorang pengacara mapan yang telah memperkosa anak perempuannya.

The First Nation on Mars

the_first_nation_on_mars_tn
Nala | FFTV-IKJ | Jakarta
Fiksi | 2008 | 08.20

Sam, seorang astronot Warga Negara Asing melewati perjalanan ke Mars bersama rekannya Ben yang bertugas sebagai pendokumentasi. Ketika tiba di Mars Sam merasa sangat bangga akan dirinya dan Amerika yang sudah dapat sampai ke Mars sebagai yang pertama. Namun penelusuran mereka di Mars tidak berjalan mulus.

Hide and Sleep

hide_and_sleep_still_tn
Ismail Basbeth | Hide Project | Yogyakarta
Fiksi | 2008 | 16.00

Ramlan kebingungan ketika mendapati beberapa wanita dalam kamarnya saat bangun dari tidur. Dalam ingatannya, dia tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi semalam. Semua terlihat aneh dan janggal. Mungkinkah Ramlan menemukan penyebab kejadian ini?

Kompetisi 3

Kenangan

Total Durasi: 59.00
Klasifikasi: 15+
Diputar:
1.Jumat, 20 November 2009 pk. 13.30
2.Sabtu, 21 November 2009 pk. 18.00

Kabar Gembira

kabar_gembira_tn
Nicholas Yudifar A.W. | FFTV-IKJ | Jakarta
Fiksi | 2008 | 23.00

Nazarudin, 50 tahun, seorang supir mobil jenazah yang menerima kabar dari istrinya bahwa putra pertama mereka akan segera lahir bermaksud pulang ke kampung halamannya di Lampung. Namun ia masih harus mengantar satu jenazah lagi ke Pandeglang yang kebetulan alamatnya searah dengan kampungnya.

Hujan Tak Jadi Datang

hujan_tak_jadi_datang_tn
Yosep Anggie Noen | 56 Films | Yogyakarta
Fiksi | 2009 | 16.00

Sepasang pegawai toko perabot rumah harus mengantarkan sofa kepada pembeli. Tapi mereka terjebak dalam situasi perselingkuhan yang tidak matang. Si lelaki menyukai si perempuan yang juga sedang mencoba mencari tahu tentang perasaannya kepada si lelaki. Di sofa mereka menguak kebenaran-kebenaran itu.

Anak-anak Lumpur

anak_anak_lumpur_tn
Danial Rifki | FFTV-IKJ | Jakarta
Fiksi | 2009 | 20.00

Cerita tentang anak-anak korban lumpur panas Lapindo yang berusaha mempertahankan "harta" yang masih mereka miliki.

Postingan ini juga saya posting di Bicarafilm.com

Selasa, 10 November 2009

Nonton Europe on Screen 2009


Setelah Sabtu gagal untuk nonton Europe on Screen 2009 akhirnya Senin kemarin saya nonton sendirian. Karena yang dekat dengan kantor ialah Goeteh House jadi saya langsung cabut ke setelah jam pulang kantor.

Saya berniat mengejar Best Europe Short Film, tapi saya cuma kebagian 3 film saja. Gak apa tapi saya cukup terhibur. Namun film yang mau saya bahas kali ini bukan yang Short movienya tapi yang film panjang, yang di puter jam 19.30.


Film tersebut berjudul :

IL VENTO FA IL SUO GIRO (THE WIND BLOWS ROUND)

Italy | 2005 | Drama | 110 minutes | Italian with English subtitle

Director: Giorgieo Diritti


Judulnya rada aneh ya... panjang hehe. Ini film Italia, berkisah tentang sebuah desa di perkampungan Occitan di Pegunungan Alpen Italia. Desa ini sangat indah, dan sering dijadikan tempat wisata pada saat musim panas. Nah lalu datanglah seorang keluarga gembala dari Perancis. Mereka datang untuk menetap di desa itu. Si gembala suka daerah itu karena cuacanya cocok untuk menggembalakan kambing2nya. Ia juga seorang pembuat keju rumahan dari susu kambing. Di desa itu dia akan mendirikan usaha pembuatan keju, dan disambut gembura oleh penduduk desa itu. Semua bahu membahu membereskan rumah yang akan di sewanya. Di cat, dibetulkan gentingnya, dibersihkan dari barang2 bekas. Pokoknya keluarga penggembala itu tinggal datang dan menempati saja tanpa perlu bersusah payah.



Awal mulanya kedatangan si penggembala akan membuka kesempatan akan hidup baru di desa itu. Tapi namanya juga warga desa, jika pendatang baru tidak mengikuti aturan tata krama desa itu langsung jadi bahan pegunjingan. Dari ritual pemberkatan rumah baru, sang gembala ndak mau melakukannya. Lalu tentang kambing2 gembalaannya yang makan di lapangan rumput luas dan memakan padang rumput milik tetangga. Padahal padang rumput itu terbuka untuk umum, gak ada pagarnya. tapi ada warga yang marah dan gak setuju.


Para pria desa itu, ndarmus (mupeng) melihat kecantikan istri si penggembala, mereka kadang mencuri intip sang istri sedang mandi atau mencuci baju. Lucu lihat yang scene ini :)) Ternyata ndak cukup sampai di situ, bahkan karena iri dan dengki mereka terhadap tetangga baru ini mereka sengaja membuat fitnah, surat kaleng, menyebarkan isyu gak sedap dan makin lama menyakitkan.

Awalnya keluarga gembala kerasan dan betah, senang dengan kebaikan2 mereka yang berlebih, namun kok makin banyak fitnah2 dan isyu2 tidak jelas. Hingga puncaknya saat kepala desa yang kebetulan dekat dengan keuraga gembala pergi ke kota selama beberapa hari. Fitnah yang dilancarkan makin menjadi, bahkan melukai salah satu warganya.

Kepala desa pulang dengan setumpuk berita miring, dan meminta pertanggung jawaban dan penjelasan dari penggembala. Situasi rumit, akankah sang penggembala dan keluarga tetap tinggal di situ? atau mungkin malah pergi? Ah lebih baik dicari aja deh filmnya atau nonton di Europe on Screen :D

Saya pikir ini film baru, ternyata film ini sudah cukup lama, produksi tahun 2005. Sepanjang film saya di suguhkan oleh indahnya pemandangan kaki pegunungan Alpen. Wuihh indahhh bener.... :D

Alur film ini berjalan lambat namun naik perlahan-lahan. Tidak terlalu banyak dialog, sedang saja, namun banyak memperlihatkan gerak (aktivitas), saya jadi tahu kebiasaan di desa di negeri Italia itu seperti apa, bikin keju itu gimana, menggembala kambing, memerah susu. Yah kehidupan sehari2 di desa itu bikin saya amazed takjub *halah ndeso deh saya* :))
Apalagi saat muncul konflik2, semua terbangun dengan rapi dan menggemaskan *kayak nonton sinetron indonesia dong* :)) ahahaha Pokonya jempol buat film drama ini :D

Usai nonton film ini saya jadi berkaca pada keseharian saya, wah banyak sekali orang2 macam penduduk desa itu, dan itu juga jadi tayangan di televisi saya sehari2. dari sinetron, reality show, berita semua sama benang merahnya iri, dengki, permusuhan, adu domba, fitnah. Sama seperti film yang saya tonton ini.... ah ... sifat dasar manusia yang akan saling mendominasi dirinya sampai kapanpun. Miris ya?

Kamis, 15 Oktober 2009

Film Indonesia Bukan Negara Islam

Waktu itu saya mengadiri pemutaran film pendek di acara Boemboe Forum 2009. fikir ya mungkin telah lewat sih... acaranya waktu itu digelar pada Sabtu, 1 Agustus 2009, pukul 14.30 WIB, di Istituto Italiano di Cultura (Pusat Kebudayaan Itali) Jakarta. Ada sekitar 6 film yang di putar, di buat dari berbagai kota di Indonesia.

Salah satu yang menarik buat saya ialah film buatan Jason Iskandar. love Seorang sutradara film pendek muda, yang masih bersekolah di SMA Kanisius (hampir saya pikir dia sudah kuliah karena kebongsoran badannya). Filmnya berjudul Indonesia Bukan Negara Islam. Mungkin ada yang pernah melihat filmnya yang juga disebarluaskan di Youtube.around

Film ini bercerita tentang dua orang siswa Muslim yang bersekolah di sekolah Katholik. Mereka berpendapat tentang Indonesia dan Islam sebagai agama mayoritas. Dikemas dengan slide show stillphoto hitam putih. Semua hasil jepretan Jason sendiri.

Judul yang kuat, dan kontroversional. Jika tidak bisa membaca judul dan menontonnya dengan kepala dingin wah pasti akan banyak sekali yang menentang film ini, dan itu terbukti coba lihat saja komen2 di yutubnya. Belum lagi jika film ini di putarkan di forum2, pasti akan selalu ada suara2 sumir yang pro dan kontra.rindu

Pertama kali nonton film ini saya langsung terdiam, kaget ya segalanya dijelaskan (walau mungkin tidak detil) namun dari sudut pandang pembuat sudah cukup membuat penonton (dalam hal ini saya) merasa tersentil. Yah, beberapa oknum yang mengatasnamakan Islam itu memang cukup berlebihan untuk menyikapi banyak hal, bahkan kekerasan kadang mejadi jalan keluarnya. tembak Dan kadang menurut saya mereka seakan lupa dimana mereka tinggal. Negara yang majemuk, bhineka tunggal ika yang tidak semuanya Muslim.

Semua keresahan2 dari minoritas, maupun yang mayoritas dikeluhkan dalam tiap fotonya. Memotret kenyataan2 yang semakin banyak disekitar kita. Jason bermaksud mengutarakan hal itu, maksud dia baik, dia tidak menentang dan tidak juga berharap memicu perdebatan, Jason hanya menyuarakan apa yang ada dalam pemikiranya bersama teman2 muslim di sekolahnya. Saya pikir film ini bisa jadi perenungan. respek Untuk apa mencapai derajat tertinggi dalam beribadah kepada Tuhan jika berhubungan dengan sesama manusia di sekitar kita pun kita masih belum becus? Bukankah Habluminallah (hubungan manusia dan Tuhan) dan Habluminannas (hubungan manusia dengan manusia) seharusnya bisa seimbang.

Ah apalah saya, pegangan agama pun juga tidak sekuat itu kok, saya pun juga bukan ahli surga lha kok sudah banyak bicara tentang agama. ihikhik Saya disini hanya berbagi dan mungkin teman2 disini punya pendapat? Ya monggo disuarakan, tapi ingat ya jangan menyinggung... maklum nantinya pasti pembicaraanya akan menuju ranah yang sensitive. Jadi selamat menikmati filmnya ya....agree5