Kamis, 03 Maret 2016

Review makanan: Chitato rasa Indomie Goreng

Akhirnya ketemu! 😆

Ada di indomaret dekat Gramedia Matraman!

Saya penasaran banget sama produk Chitato dengan rasa yang unik ini, sumpah ini bener2 jajanan langka! 
Setiap hari selama 2 minggu tearkhir ini saya terpapar review teman, apdet foto toman yang habis makan Chitato ini, sampe saya tanya mereka nemu dimana dan sebagainya. Akhirnya saya malah jadi ikutan mencari di berbagai Indomaret (konon katanya cuma dijual eksklusif di Indomaret). Saya emang gak ngoyo mencari sih, tapi tiap memasuki Indomaret emang mata saya jadi jelalatan untuk mengecek. Dan memang tidak semua Indomaret jual Chitato yang rare ini, saya pasrah karena di cabang dekat kantor di daerah Palmerah Barat dan di dekat rumah daerah Duren Sawit sama sekali gak ada Chitato yg ngehits ini.

Dan suatu ketika, hari ini saat saya sedang ada tugas meliput acara launching buku anak Zoo Story di Gramedia Matraman saya malah nemu Chitato rasa Indomie goreng ini!
Saya nemu di Indomaret samping Gramedia Matraman. 

Karena launching buku pagi, saya pagi2 sudah stand by di toko buku. Saat masih bersiap dan beberas, perut lapar minta sarapan, kepikirlah jajan roti di Indomaret eh malah ketemu yang dicari-cari. Alhamdulillah 😆.

Jadi gimana rasanya? Okey-okey saya buka bungkusnya dulu, bungkusnya eksklusif seperti terpampang pada foto dengan finishing kemasan seperti Chitato edisi Asian Taste, ngedoff gitu jadi terlihat eksklusif. Saat saya coba isinya, hem..tercium aroma indomie goreng, saat dirasakan pun terasa rasa indomie goreng namun ada after taste kentangnya Chitato. Setelah makan beberapa keping ada rasa pedas di lidah. Iya terasa lebih pedas dariada Chitato biasa (menurut saya sih...). 

Inovasi yang menarik, apalagi konon Chitato ini tidak dibuat banyak, hanya limited edition. Awalnya hanya tersedia di jabodetabek, lalu jawa barat, menyusul seluruh pulau jawa. Apakah sampai seindonesia penjualannya? Wah saya agak kurang tahu sih. Dan memang untuk ndapetin Chitato rare ini susaah banget. Kayaknya kampanye testimoni produk ini di sosmed berdampak viral dan sukses, sukses bikin org penasaran dan pengin mencari dan mencobanya.

Jadi apa kamu sudah mendapatkannya dan mencoba rasanya? Saya sudah! 😁


Minggu, 28 Februari 2016

Review film: The Revenant

Setelah menonton Siti, Surat dari Praha dan, A Copy of My Mind, akhirnya rampung juga nonton The Revenant. 

Mengejar hingga ke studio2, ke ujung bioskop tertentu. Yup, saya baru nonton film ini setelah film ini hampir apkir dari layar lebar. Sebenarnya saya sdah pengin nonton ini saat saya tahu dia masuk nominasi Oscar 2016, saya sudah lihat trailernya di bioskop yang terasa apik, seru menegangkan dan dihibur oleh lansekap yang indah. Wih makin penasaran banget! :D Tapi.... sayangnya ada banyak film indonesia bagus yang sedang diputar dan kapan lagi saya bisa nonton film2 tersebut? Daur hidup film indonesia di layar lebar lebih singkat daripada film hollywood. Jadi saya baru mengejar The Revenant setelah usah menikmati 3 film indonesia pilihan saya.

Bagaimana The Revenant? Bagus! Pertarungan beruangnya sungguh menegangkan, saya harus merem melek untuk menikmati adegan pertarungan beruangnya yang intens, brutal, dengan darah dimana-mana, terasa nyeri, ngilu, dan lain sebagainya, usai pertarungan berujung kasihan, sakit dan bermacam2 rasa dari film yang tergambar.

Dan satu lagi yang bikin saya mengumpat karena terpukau dan 'arrgg gila itu gila banget!' yaitu adegan melawan rasa dingin di dalam perut sang kuda. Disitu saya merasakan bagaimana melawan rasa dingin yang merasuk dan haurs tetap survive hidup, astagah dinginnya benar2 merasuk dan saya terheran-heran, kok bisa sih kepikiran mengambil jalan itu?

Dua poin itu yang bener2 menyentuh saya saat nonton The Revenant, perihal premis film untuk membalas dendam atau mengejar pembunuh anaknya pun hampir terlupakan oleh saya. Saya sungguh lebih terpukau dengan lansekap negeri dingin yang indah dan bagaimana bertahan hidup di alam liar yang bar-bar di masa itu.

Dan apakah Leonardo di Caprio pantas mendapatkan penghargaan Oscar yang telah dinantinya bertahun-tahun? Ya, kurasa dia pantas mendapatkannya. Bagaimana dengan Innaritu sang sutradara?
Masih pantas juga, tapi menurutku ini bukan karya terbaik Innaritu :) Birdman masih lebih cakep, dan Biutiful masih lebih menyentuh saya... hehehe... (ya mungkin ini masalah selera sih).

Ada yang belum nonton The Revenant? Tontonlah, worth it kok :D


Kamis, 28 Januari 2016

Hobi mewarnai Aga

Gak terasa... ternyata sudah setahun gak apdet blog!
Yak ampuuunnn saya merasa malu jadi blogger :(( Sungguh media sosial yang singkat-singkat dan praktis itu betul2 sukses mendistraksi keinginan ngeblog.

Apakabar kamu? Kabar saya, alhamdulillah baik. Masih menjadi ibu2 newbie yang masih gagap mengamati perkembangan bocah..
Apakabar Aga? Aga sudah besar, sudah 2 tahun 4 bulan. Masih nenen (iya saya belum sukses menyapih, hiks), sudah lari-lari, pintar ngambek dan nangis, kalo manjanya kumat masih suka banget gendong dan sepertinya Aga telat berbicara. Untuk yang terakhir saya bingung juga, padahal sudah diajak ngomong segala macem, dan sudah didongengin macem-macem tapi Aga masih enggan mengucap kata, masih sedikit sekali kosakata yang keluar dari mulutnya.. Ah tapi tentang speech delay ini akan dibahas di lain postingan lah ya... (yg entah kapan hehehe).

Salah satu kesukaan Aga selain main mobil, main kereta, main bola, nangis heheh ada juga mewarnai. Ya lebih tepatnya sih coret-coret, untungnya coret-coret kertas atau buku mewarnai bukan dinding rumah atau lemari hehehehe...

Kalo sudah disodorin kertas, spidol atau kerayon langsung deh anteng corat coret, entah dengan 1 warna saja atau semua warna dicoret jadi satu, biasanya motifnya benang kusut hahahaha... :D


tekun bikin benang kusut :))


Kadang saking gemasnya, ibunya juga ikut mewarnai buku mewarnai Aga, ya maksudnya memberi contoh kalo mewarnai misal jeruk itu oranye, atau strawberi itu merah, dll Tapi kenyataannya ya hasil karya anaknya bisa 1 halaman full isinya benang ruwet sedangkan hasil karya ibunya terlalu serius dan tampak bagus :)) hahahaha ini kalo kaya begini kelihatan kalo ibunya kurang kerjaan hahaha...

semua warna dicoba, pokoknya campur-campur.


Ya Aga masih belum paham sih sama konsep mewarnai gambar yang baik, tapi dari goresan2 tangan kecilnya, kurasa tipe kami sama, sama2 tegas dalam menarik garis, gak ragu-ragu :D hihihi... jadi teringat masa kecil saya yang sudah bahagia banget kalo dikasih spidol snowman hitam dan kertas atau buku tulis, pasti langsung coret2. :D

Oh ya buku mewarnai Aga di rumah yang judulnya ini Color Me Happy, terbitan BIP. Ada 5 buku dan masing-masing buku punya topik gambar tersendiri. Ada yang berisi gambar2 hewan, gambar transportasi, gambar buah2an, gambar olah raga dan gambar makanan dan minuman. Semuanya berisi gambar-gambar sederhana dengan garis outline yang tebal, juga tulisan nama2 gambar tersebut dalam dwibahasa. Lumayan, deh menyenangkan untuk aktivitas mewarnai bersama anak2 hihi..
Kalau kalian apa buku mewarnai favorit kalian? :)

Color Me Happy the series.