pantai pasir putih situbondo
gak terasa sudah sebulan saya gak mengapdet halaman ini. cerita tentang Madura belum berakhir padahal... fiuh... kerjaan padat, ditambah kerjaan2 kecil lainnya juga ketidak jelasan hati dan pikiran2 rumit yang ada di otak saya... banyak ide tertahan, banyak racauan harus dikeluarkan secara instan. kadang saya meracau menyampah di halaman plurk saya, atau memaksa teman mendengarkan cerita gak penting saya di pojokan YM.
sibuk bergosip dan menyinyir menjadi hobi baru saya melepas kemuakan saya akan banyak hal, akan ketidak sukaan saya terhadap manusia2 bertopeng yang banyak dijumpai di kehidupan maya maupun nyata. kemuakan saya juga akan trend2 dan isyu2 yang ada disekitar yang makin bikin saya cape dan lelah untuk terlalu mempermasalahkannya. hidup udah susah dan rumit, kalau terlalu dipikirkan. saya cuma mau rileks dan apa adanya... menjalani semuanya dan mengalir bagai segara yang berujung ke lautan luas.
kamu butuh libur pied! oh jelas dan pasti! itu yang selalu saya nantikan dikala long wiken, dikala tanggal2 merah bertebaran diakhir minggu. saya selalu ingin lihat laut! liat tempat segara bermuara. bikin saya merasa lepas.... apalagi saat memandang lautan luas yang biru yang berbatas horison tipis. antara langit dan batas permukaan bumi menjadi rancu dan nyaru. bermain dengan pasir putih yang menggelitik kaki, membuat saya kembali menjadi kanak-kanak bermain dengan asyiknya tak peduli sengatan matahari perlahan membakar, mengubah warna kulit saya *kalo sudah gini pasti saya selalu menyesal kenapa gak tengtopan aja biar tangan gak belang karena baju berlengan*.
sumpah saya ingin libur, ingin melepas kepenatan, ingin rileks kembali agar saya siap menghadapi ujian2 hidup kembali, agar saya bisa menikmati lagi hidup saya...
terimakasih untuk teman2ku yang kusayang yang sudah mau mampir di halaman ini, maaf kalo saya jarang berkunjung dan main kerumah kalian. saat waktunya tiba saya pasti akan main... tunggu ya.. :)
Kalianget, sebuah desa di ujung timur pulau Madura, tempat Hen tanggal di rumah dinas perumahan PT Garam. Dari SD hingga SMA dia tinggal di Kalianget. Semua gedung dan perumahan di situ bekas peninggalan Belanda. Rumah2 yang besar dan megah khas rumah Belanda, pabrik2 pemurnian garam, menara penadah air hujan yang masih berdiri kokoh, sebuah taman (yang saya lupa namanya)
memiliki bunker tempat perlindungan jaman perang, pelabuhan kapal. Kalianget merupakan desa yang maju, karena pada jaman penjajahan dulu Sumenep dan sekitarnya berbentuk kerajaan dan daerah Kalianget ini menjadi tempat Belanda tinggal. *untuk lebih jelasnya coba buka buku sejarah deh, saya juga gak hapal* 
Kemarin cuaca kurang bagus,
gak sepanas yang dibayangkan, malah hujan gerimis, tapi saya sempet jalan2 ke pelabuhannya. pelabuhan ini berisi kapal ferry, dan perahu motor yang menghubungkan Pulau Madura dengan Pulau Raas, Pulau Sapudi dan Pulau Puteran, Pulau Iyang dan pulau2 lain di Kepulauan Kangean.
pulau Puteran terlihat dari tepi pelabuhan
aktivitas pelabuhan Kalianget Dari bibir pelabuhan, jika kita berdiri pun akan terlihat dengan jelas pulau Puteran, menyeberang pulau Puteran bisa memakai ferry kecil atau perahu motor. kalau pake ferry bisa muat banyak, penumpang, motor, mobil dan kendaraan lain. Ada beberapa jadwal penyeberangannya dalam 1 hari. Jika terburu2 dan hanya membawa motor atau sepeda, bisa pake perahu motor, sekali seberang cuma 2.500 rupiah saja/orang. Jika ingin menyeberang ke pulau Sapudi, Raas, dan Kangean dalam seminggu ada 2-3 kali pelayaran, kapal ferrynya lebih besar dan memakan waktu perjalanan +/- 3 jam agak jauh karena perairannya lebih dalam dan memutari pulau Puteran. 
salah satu kapal ferry yang diperbaiki
perahu bermotor Saya dalam kesempatan ini cuma melihat2 kegiatan pelabuhan kecil itu ditengah guyuran gerimis dan belum punya rencana untuk menyeberangi pulau2 itu. *padahal penasaran di sana ada apa ya* 
rujak madura di kalianget Selesai melihat2 pelabuhan saya mampir main ke rumah teman Hen dan kebetulan ada pedagang rujak madura lewat membawa tampah yang berisi sayuran yang disunggi diatas kepalanya *persis kayak mbok Bariyah jualan rujak di Unyil* dan saya pun mengisi perut. Rujak Madura seperti apakah?
Pada dasarnya sama seperti Rujak Cingur Surabaya, namun yang membedakan petis madura yang menjadi bumbunya. warnanya lebih merah tidak hitam seperti petis Surabaya, lalu bumbu petisnya itu dicampur dengan bumbu kacang sehingga warna bumbu itu menjadi kuning kecokelatan. Isi rujaknya sendiri pun unik ada timun, kecambah(toge), daun kangkung rebus, bengkuang, mangga muda, kedondong, kadang ada jambu monyetnya, dan cingur sapi, lalu tak lupa ditaburi keripik singkong! iya yang bikin unik ialah keripik singkongnya dan bawang goreng tak lupa. isinya seray sehat dan mengenyangkan, rasanya gurih, asin... nikmat! ah mendeskripsikan Rujak Madura ini bikin saya jadi kepengin!
masih banyak jalan2 yang isinya makan-makan di surabaya, tapi apa itu saja yang mau saya tulis di sini hihihih... tentu tidak! keinginan saya liburan kali ini ialah mengunjungi pulau Madura. Bukan cuma mengujungi saja tapi juga mau jalan2 di sana, mau melihat dari dekat cerita Hen tentang tanah kelahirannya.
saya berangkat 1 hari setelah hari kedatangan saya di Surabaya. Berangkat dengan naik motor, berboncengan. HAH?! naik motor? hahaha gak salah tuh? beneran kok gak salah... Tujuan saya ialah ke kota Sumenep, Madura. Berangkat pagi jam setengah 6, baju lengkap, celana jins panjang, berjaket, bersepatu dan berhelm, tak lupa menggendong tas ransel.
Saya berangkat melewati jembatan Suramadu, bukan naik ferry dari pelabuhan Tj. Perak. Sebenernya perjalanan Surabaya-Sumenep kurang lebih memakan waktu 6 jam jika naik ferry dari tanjung perak. tapi kali ini saya mencoba ke Sumenep lewat Suramadu, berapa jam lebih cepat sih?
Karena masih pagi, jalanan masih sepi dan sejuk, sekitar jam 6 saya sudah berada diatas jembatan Suramadu. Tarif tol jembatan Suramadu ini, Rp. 3000 saja untuk kendaraan motor. baru kali ini ada motor boleh masuk tol hahahaha. Jalur yang dilalui jalur khusus motor yang berada di sisi paling luar dari jembatan *sisi paling kiri dan sisi paling kanan*. Sementara jalur unutk mobil, bus, truk, dll melewati jalan yang berada di tengah2.
foto diatas jembatan Suramadu
pulau madura terlihat dari atas jembatan
Melihat matahari pagi di balik awan mendung , pagi itu tidak terik sama sekali, jadi melewati jembatan Suramadu terasa menyenangkan, sekaligus deg-degan.
Hihihihi kanan dan kiri lautan semua, sambil dari kejauhan melihat kapal2 nelayan. Saya pengin seperti mobil2 itu yang dengan nakal berhenti di tepi jalan cuma buat foto2 berbegron jembatan. *padahal ada larangan berhenti di sepanjang kalan tol itu*.
Kadang2 ada polisi yang patroli di sepanjang jalan itu. Masalahanya jalanan motor itu lebih sempit dan kecil, cuma muat dilalui 2 motor jika berjalan beriringan. Jika berhenti di pinggir jalan untuk sekedar berfoto pun pasti akan mengganggu perjalanan. Jadinya saya berfoto dari atas motor saja. jepret sana jepret sini, motor saya berjalan perlahan biar bisa dapat gambar.
Tepat diatas jembatan *jalanan diantara 2 tiang pancang besar* angin bertiup agak kencang. Agak berbahaya untuk kendaraan motor apabila cuaca buruk dan berangin kencang, karena bisa mengganggu aktifitas menyetir. Puas menikmati pemandangan di atas jembatan saya pun sampai di ujung jembatan, dan langsung disambut oleh berbagai macam lapak2 penjual pernak-pernik dan oleh2 khas Suramadu dan khas Madura. Beberapa motor juga tampak beristirahat di lapak2 penjual makanan dan minuman, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan ke Madura.
Saya tetap melalanjutkan perjalanan. Keluar tol Suramadu saya langsung belok kanan melanjutkan perjalanan menuju Sampang. Dengan lewat Suramadu bisa mempersingkat perjalanan Bangkalan-Sampang sampai setengah perjalanan!
Jalanan Bangkalan sampai Sampang masih enak di lalui, aspalan masih halus dan mulus, saya berkali2 melewati hutan, kebun jagung, kebun buah naga. Tapi giliran meninggalkan kota Sampang sampai Pamekasan hingga Sumenep jalanan agak bergelombang, tidak rata. Jadi kalo mau memacu motor dam mobil dengan cepat tetap harus berhati-hati. Rawan kecelakaan soalnya... 
Jalan raya di Madura ini semuanya menyusuri tepi pantai, jadi sepanjang perjalanan dari Sampang-Pamekasan, di tepi jalan raya disuguhi pemandangan laut, pantai yang penuh kapal nelayan tertambat. Memasuki kabupaten Sumenep masih terlihat laut tapi mulai berkurang, di daerah ini juga lebih banyak terlihat pantai dengan hutan bakau-nya. Perjalanan pagi itu lancar, cuaca mendukung, mendung dan tidak panas *seperti kebanyakan orang bilang kalo Madura itu panas*.
Rencananya hanya akan berhenti di Sampang saja untuk sarapan tapi ternyata motoran jarak jauh itu bikin kaki cepat kram dan pegal jadi terpaksa saat memasuki kabupaten Sumenep pun harus turun dulu, beristirahat melemaskan kaki. Sampai kota Sumenep jam 10.30. Total perjalanan 4 jam, 1 jam di potong untuk behenti makan dan istirahat. Nah mulailah perjalanan mencari tempat peristirahatan. Fiuhhh ini perjalanan paling melelahkan. Muter2 kota kecil di Sumenep ini cuma ada 5 hotel dan penginapan. Dan semua penuh! Rupanya saya datang ke Madura bertepatan dengan rombongan pulang haji kloter Madura. Semua hotel kelas standar penuh terpesan. *kelas standar: Rp 100.000/ hari*. Cuma tersisa beberapa kamar yang kelas VIP dan VVIP wew dan selisihnya bisa Rp 25.000-Rp 50.000 rupiah. Mahal juga padahal saya berencana beberapa hari di sini. Oh iya satu lagi resenya hotel di madura ialah harus menunjukkan surat nikah jika ingin menyewa 1 kamar barengan! walau Anda sudah menikah sekalipun! hahah ribet juga nih kalo ingin menyewa kamar untuk di share beberapa orang. pasti sulit. Dan kebanyakan hotel di Madura menerapkan sistem seperti ini. 
peta perjalanan saya kali ini Akhirnya.... saya memutuskan menginap di rumah teman SMP si Hen di Kalianget. Desa paling timur di ujung pulau Madura, juga tempat kelahiran si Hen.
jalan-jalannya belum berakhir, nanti dipostingan saya selanjutnya mau saya ceritakan kemana sajakah saya selama di Sumenep. Tunggu yaaa...