Jumat, 17 Desember 2010

Puisi Sepi

Kesunyian antara padang ilalang dan pasir tepian

Alas rimba di dadaku Tak mengizinkan seorang pun untuk hidup

Air sungai mengalir dalam mata Matahari..

Keselarasan jiwa dan akal menganak tirikan Matahari atas kepalaku

Tangguhnya harapan menghempas di punggung bumi keras

Menyadari kesepian adalah bagian

Dan cinta sama rata cermincermin yang pecah

Kesepian menjauhkan diri dari kebenaran

Nafasnafas kedengkian berhembus satu persatu

Memikul rindu yang antah berantah adalah ketidakberdayaan diriku menerima segala

Pada akhirnya, aku lupa bagaimana

Meminta hati sendiri untuk bicara

Mengunci ruang rapatrapat

Kedap suara kedap nurani

Mengenaskan!

By Ibenk Sablenk-


Ibenk memberi puisi ini tepat pagi hari ini.. puisi ini muncul setelah membaca postingan saya yang berjudul “Sepi”.

Saya merasa senang, tersanjung, meluap-luap bahagia. Tulisan saya yang murung dan terlalu emosional itu bisa mengispirasi orang untuk membuat karya, Ah.. saya memang pengagummu Benk, selalu setiap kata yang muncul darimu bikin saya terdiam, tercekat, karena mengagumi setiap katanya. Indah, pedih, menusuk, dalam, rumit, ada labirin didalamnya namun melegakan. Hahaha mungkin kata2 saya berlebihan… tapi itulah yang saya rasakan.

Sekarang saya tanya padamu Benk, saya atau kamu yang layak di sebut ‘pengagum rahasia’? mungkin saya, mungkin kamu, mungkin kita memang selalu saling kagum… :)

Kamis, 16 Desember 2010

Kejarlah bis kau kutangkap!

Bangun pagi ini agak terlambat 10 menit, mata masih ngantuk bukan main. Masih ingin rebahan di kasur yang nyaman dan empuk, malas bangun dan beranjak mandi. Ah biasa… sindrom hari Kamis. Selalu terpikir duhhh kenapa bukan hari Jumat sih?

Hari ini jadwal nge gym, jadi bawa 2 tas.. berisi baju, sepatu, peralatan mandi, dan taklupa bekal makanan. Saya segera naik bis dan duduk di bangku depan di samping pak supir yang sedang bekerja mengendali bis supaya baik jalannya hehehe… :D

Dalam perjalanan lagi gak mood mainan hape baru saya, selain batere tiris, mata juga rasanya manja minta merem. Alhasil saya tertidur dengan nyenyaknya. Sampai tiba-tiba penumpang di bangku sebelah saya membangunkan saya. Ternyata sudah sampai, metromini yang saya tumpangi telah menepi dan menurunkan penumpang di depan terminal, dekat kantor travel Xtrans blok m.

Kaget, baru bangun, masih ngantuk dan buru-buru lah saya turun bis.. Saya pun segera menuju loket busway yang terletak di bawah terminal blok m. Baru berapa langkah saya baru sadar, TAS SAYA SATU LAGI MANA?! Balik badan, lihat tempat tadi saya turun, metromini sudah lenyap tak berbekas. Saya baru ingat tas yang isinya baju senam, handuk, sabun, shampoo, celana dalam dan bra itu saya letakkan di dasbor depan metro. Astagahhhh…..

Langsung gak pikir panjang saya langsung lari, nurunin tangga dan menaiki lagi, berusaha mencegat bis itu di jalur 6. Jalur tempat bis tersebut akan masuk kembali untuk menaikkan penumpang. Sampai di jalur 6 saya langsung panik, bis yang mana??! Sementara ada macam-macam metromini bernomor 610 di sana.

Keringat bercucuran, mekap luntur, napas satu-dua, sementara saya masih menggendong ransel berisi bekal dan keperluan kantor. Dan KETEMU!!! Di antara metromini itu akhirnya saya menemukan metro yang tadi saya naiki, supirnya pun juga langsung memanggil saya. Saya segera naik dan mengambil tas saya yang tertinggal dan tak lupa mengucapkan terima kasih pada pak supir yang baik hati itu. Ah semoga bapak diberi banyak rezeki saat bertugas ya pak!

Dengan hati riang, saya membawa tas tersebut dan kembali menuju loket busway dan bersiap mengantri busway yang telah mengular naga panjangnya…

Oh…Okey… olah raga selanjutnya ialah dorong-dorongan dan sikut-sikutan… *tepok jidad*


Moral cerita hari ini ialah… pastikan anda benar-benar bangun saat naik kendaraan umum. Masih untung bisnya bisa dikejar dan dilacak, kalo enggak? Ah pasti supirnya senang mengoleksi bra dan celana dalam saya… :p

Selasa, 23 November 2010

Hujan pagi hari dan ultahmu


23 november 2010, pagi ini hujan deras. Hujan yang tak pernah saya inginkan datang di pagi hari, hujan yang cuma bisa bikin saya terbakar amarah karena kebasahan dan juga hujan yang membuat hati saya murung. Semurung-murungnya..

Teringat suatu ketika, kita pernah diguyur hujan bersama diatas sepeda motormu. Kita lalui banjirnya jalan Jemursari dikala hujan. Saya sibuk menggerutu, dengan basah yang saya rasakan. Kita memakai jas hujan ponco belel milikmu, yang sudah robek dibeberapa tempatnya. Sementara saya memelukmu dari belakang sambil terus menggigil kedinginan. Hujan kala itu hujan angin, saya cuma bisa kesal diatas motor. Sampai akhirnya kamu mengantarku pulang sampai ke rumah bulikku.

Hujan pagi ini mengingatkanku padamu. Kuyupnya saya pagi ini, dinginnya menusuk sampai hati. Dalam perjalanan menuju kantor saya buka kembali kotak memori yang saya letakkan disudut hati. Semua berisi tentang kamu, potongan memori terkuak kembali, dan rasa hangat yang pernah saya rasa terasa kembali.. Ijinkan saya mengingatmu, di hari ultahmu ini…

Selamat ultah pemenjara hatiku, selamat ultah sang pengunci hatiku.. Banyak cinta telah saya jalani, banyak pria telah mendampingi saya, namun tak pernah ada yang bisa membuka kunci hati ini..

Banyak pesan kukirimkan padamu, banyak pesan kuminta agar penjara ini kau buka namun… pesan itu cuma akan hanyut dalam guyuran hujan, sama seperti pagi ini.

Selamat ultah Hendry… Doaku selalu yang terbaik untukmu…