Kamis, 23 Juni 2016

Review Short Animation Competition XXI Short Film Festival 2016

Ini kejadian kapan ya? April atau Maret? Kok saya agak2 lupa...

Hari Sabtu nonton pemutaran Short Animation XXI Short Film Festival 2016.





Ada 6 film yang terpilih menjadi nominasi. Nah akan saya review singkat ya.. Keenam film ini menarik dengan teknik yang keren2 dan cerita yang ringan malah kadang terlalu ringan 

Biru

Teknik yang digunakan stopmotion, menggunakan puppet, premis cerita menarik dan eksekusi juga menarik, liar dan unik. Ceritanya tentang procrastinating, menunda-nunda sesuatu.


Kapur Ade

Yup film pendek animasi 2D dari Lanting Studio ini masuk nominasi. Kisah tentang anak jalanan di jakarta yang menjadikan kemacetan Jakarta sebagai playground mereka.


Linimera

Film pendek animasi 3D dengan warna hitam putih dan merah, warna merahnya warna benang yang menghubungkan waktu hidup tokoh-tokohnya. Premis yang saya tangkap tentang gunakan waktumu bersama orang yang kamu cintai atau keluargamu. Hidup itu singkat, dan terkadang ada hal-hal yang perlu dinikmati saja agar kamu tidak kehilangan momenmu.


Rexi: The Great Return

Film pendek animasi 3D dengan teknik animasi dan tokoh karakter yang bagus dan keren tapi..Kalau untuk dilombakan 1 film ini saja berasa kentang dan kurang. Selesai nonton jadi punya banyak pertanyaan kelanjutan dan lain2nya bagaimana. Film ini cocoknya diseting untuk serial, entah jadi web series atau ditayangkan di TV?
Lalu premis ceritanya apa? Nah itu dia ceritanya gak berbekas jadinya saya gak ingat :))) hahaha...


Zlo: The Great Runner

Entah kenapa banyak judul dengan tulisan The great-the great-nya ini deh.. :))
Animasi 3D, dengan bentuk karakter yang agak ajaib menurut saya.. Ceritanya menarik, bagaimana mengatasi ketakutanmu untuk sesatu yang besar yang akan kamu jalani di depan.


Alien CG

Ini juga animasi pendek 3D yang cocoknya jadi web series atau serial TV, karena karakternya menarik dan baik serta menjual. Lalu cerita juga sederhana, geje bahkan agak2 gak penting gitu deh tapi menghibur, terbukti banyak penonton yang tertawa saat film ini ditayangkan :D

Penasaran sama film2nya? coba cari di Youtube deh, saya rasa ada semua hehe :D
Bilang aja males nyari linknya :))))

Senin, 23 Mei 2016

Melukis dengan cat kanji aman untuk balita



Kemarin melukis bersama Aga. 
Saya teringat pernah diajarin melukis pakai cat kanji jaman sekolah dulu. 
Kalau dulu catnya pake cat poster sakura, ini cuma pake pewarna makanan stok di rumah. Bahan-bahan dan cara pembuatannya mudah banget.

Cat kanji warna-warni

Bahan: 
  • 3 sdm tepung kanji
  • Air secukupnya
  • Beberapa tetes pewarna makanan (saya pake pewarana makanan cap kupu-kupu, 4 warna berbeda)
Alat: 
  • Panci
  • Kompor
  • Mangkuk
  • Sendok
Cara:
  1. Campurkan tepung kanji dengan air secukupnya, masukkan panci dan jerang diatas api.
  2. Aduk hingga mengental, setelah kental matikan api.
  3. Aduk hingga uap panas hilang, bagi menjadi 4 adonan dan pindahkan ke mangkuk-mangkuk.
  4. Beri 3-4 tetes pewarna makanan dan aduk rata.
  5. Cat kanji siap dipakai.

Cara penggunaan: 
  1. Celupkan tangan atau jari kedalam cat kanji dan buat gambar di atas kertas atau keramik sesukamu.
  2. Jemur hasil lukisan cat kanji. Siap dipajang deh. 

Saya bikin 4 mangkuk cat kanji: warna, merah, hijau, ungu, kuning. Padahal bikinnya dikit tapi jadinya segambreng. Menghasilkan 6 lembar lukisan ukuran A3.

Itu habis semua? Enggak! Sisanya? Dicoret2 di dinding keramik kamar mandi sambil mandi. :D biar bisa dibilas. 

Mengejutkannya Aga mau ngelukis dengan tangannya, mengingat Aga paling jijik kotor2an. Iya Aga makan biskuit cokelat aja kalau belepetan di tangan jijik2 minta tissue atau minta cuci tangan. Hahahaha. Ini dia terpaksa menikmati kejijikan dan jorok2nya melukis hahaha.

Senang! 

Dari ekspresinya gak suka, sampai akhirnya mau menyelesaikan lukisan sampai cat kanji habis.

Kapan-kapan metode melukis cat kanji ini bisa diulang lagi. Lumayan buat variasi aktivitas main Aga di rumah. 




Kamis, 14 April 2016

Kapur Ade menang Gold Award Viddsee Juree Indonesia 2016

Ini kejadian tanggal 5 Maret 2016 lalu.

Film Kapur Ade (Little Sister's Chalk), film animasi 2D terbaru Lanting kalau saya bilang adalah film yang paling lama menentukan akhir ceritanya, kenapa saya bilang begitu? Berulang kali si mas mengeluarkan banyak ide untuk menentukan akhir film ini, macem-macem alternatif endingnya, padahal pengerjaan film ini sudah lama kalo gak salah dari tahun 2015 awal. Film ini pernah diikutkan FFI 2015, hanya masuk dalam nominasi saja.

Lalu si Mas masih mengedarkan Kapur Ade di berbagai festival dalam dan luar negeri, hingga salah satunya diikutkan ke Viddsee Juree Award. Viddsee sendiri adalah sebuah multiplatform online yang mengumpulkan dan memilih film pendek serta cerita Asia terbaik untuk ditampilkan di www.viddsee.com. Platform ini diklaim memiliki basis audiens internasional yang luas, serta mempromosikan film pendek Asia terbaik ke seluruh jaringan film pendek, festival, dan film market. Lalu Viddsee Juree Awards adalah kompetisi untuk merayakan film pendek Asia dari berbagai genre; fiksi, dokumenter serta animasi. Indonesia mendapat kehormatan dan terpilih sebagai negara pertama yang untuk meluncurkan edisi perdana Viddsee Juree Awards, dimana pembuat film pendek Indonesia mendapatkan berkesempatan filmnya ditonton dan dipilih oleh panel juri internasional.

Nah iseng- iseng diikutkan dan akhirnya Kapur Ade masuk nominasi dalam kompetisi ini, ketemu lagi dengan beberapa film pendek lain, beberapa malah sudah sama-sama sering lihat filmnya wara wiri di kancah festival film juga hehehe. Tanggal 5 Maret 2016 itu tibalah pengumuman si Viddsee Juree Award edisi Indonesia ini. Acara awardingnya dilakukan di IFI Jakarta yang bertempat di jalan Thamrin.

Saya sempat menonton pemutaran film2 nominasinya, ada sekitar 10 film pendek dengan berbagai genre. Idenya banyak yang menarik dan nyeleneneh. Saya ketemu lagi dengan film Wachten Staad-nya Mas Fajar dan Digdaya Ing Bebaya (of The Dancing Leaves)-nya Mas BW Purbanegara.
Dalam kompetisi ini saya sih gak mikir kalo akan menang, karena filmnya keren2 semua. Feeling saya sih Digdaya Ing Bebaya bakal menang, dan emang bener! Film dokumenter karya Mas BW ini meraih juara ke dua. Pulang2 bawa kamera Black Magic.

Pas pengumuman juara pertama, makin kagetlah saya ternyata yang menang ialah film Kapur Ade!
Film Kapur Ade menang Gold Award Viddsee Juree Indonesia 2016.
Yak ampun mimpi apa dapet kamera Blackmagic tipe URSA EF!
Alhamdulillah! Sama seneng juga dapet trip ke Singapura (yang entah kapan) untuk berkunjung ke kantor Viddsee di Singapura (ples jalan-jalan juga).

pengumuman yang bikin kaget itu >.<



kamera yang masih belum dipakai sampe sekarang


Hehehe gak nyangka banget, film Kapur Ade diapresiasi oleh juri2 panel internasionalnya, ada 3 juri di kompetisi ini yaitu Masoud Soheili (pembuat film independen Iran yang sering menang festival), James Lee (pendiri Doghouse 73 dan salah satu pelopor pembuat film pendek independen di Malaysia di masa sekarang), dan Eiji Shimada (sutradara film pendek asal Jepang yang film pendeknya juga sering menang di beberapa festival internasional). Wahh.. diapresiasi oleh juri-juri yang berpengalaman juga dalam perfilman pendek. Seneng banget hehehe...

Kalau denger penjelasan mereka kenapa memilih pun juga sangat senang, beberapa pesan mereka dapatkan dari film sederhana ini. Hihihi kenapa ya, kalo denger komentar orang tentang film yang sudah dibuat itu rasanya senang-senang deg-degan. :D “Kekuatan utama Kapur Ade terletak pada kemampuan pembuatnya dalam menyampaikan narasi yang mampu menceritakan tentang wajah dan semangat Indonesia kepada penonton asing, dengan karakterisasi yang unik sekaligus imajinasi tinggi,” ini kata Masoud Soheili ketika mewakili ketiga juri saat menjelaskan alasan kemenangan film Kapur Ade.