Selasa, 26 Juli 2011

Melankoli sekotak bekal



Kira-kira tanggal 1 Agustus besok sudah mulai memasuki Ramadan. Tersadar, berarti seminggu ini terakhir saya makan bekal yang dibawakan ibu setiap paginya. Setelah memasuki Ramadan tak akan ada bekal buatan ibu, setelah Lebaran pun juga... mungkin saya sudah tidak lagi serumah dengan ibu. :'(

Terasa berlebihan tapi entah mengapa melankoli langsung menyergap. Keputusan besar dengan efek perubahan yang akan besar pula. Saya takut. Sungguh. Sabar, kenapa semua secepat itu sih?! Perlahan... tak bisakah waktu berjalan lebih perlahan? Demi saya masih ingin bisa menikmati seminggu ini dengan sempurna.

Saya masih ingin makan masakan ibu dari kotak bekal saya—yang kadang tidak saya habiskan karena tidak berselera, yang kadang kusisakan makanan yang tidak kusuka, atau bahkan pernah tidak saya sentuh sedikit pun— Saya masih ingin tiap paginya meminum larutan kanji hangat bikinannya—yang lumayan ngefek demi mengatasi sakit maag saya.

Dan entah masih banyak sejuta harap lagi pada waktu, meminta waktu semakin diperlambat diantara percepatan yang membabi buta ini.

Hei... seharusnya ndak perlu sesedih itu lah.. Dulu kan saya pernah meninggalkan ibu dan bapak 6 tahun lamanya menuntut ilmu ke kota lain? Selama 6 tahun itu juga tanpa masakan sederhana ibu.

Iya, pasti rasanya akan seperti 6 tahun dulu.
Ya kurang lebih akan seperti itu rasanya...
kurang lebih...
kayaknya....
...
(dan saya pun juga tak yakin)




Tapi yang pasti saya akan sangat-sangat merindukan kasih sayangnya yang terasa dalam kotak bekal itu setiap harinya...